Kak please jangan sakitin tubuh gue.
---
Tak terasa minggu sudah berlalu dan kini tergantikan oleh senin. Mau tidak mau Vano harus kembali bersekolah. Pagi ini Vano sengaja berangkat agak pagi, karena Vano ingin menemui Alana untuk meminta maaf padanya. Seperti saran teman-temannya tadi malam.
-Flashback on.-
Setelah dari tempat yang menjadi saksi betapa malunya Vano pada kakak Alana, dimana lagi kalo bukan supermarket. Setelah Vano dari sana Vano mengendarai motornya menuju rumah Dino.
Kenapa Vano lebih memilih ke rumah Dino daripada kembali ke rumah? Padahal hari sudah cukup malam. Itu sebab Vano sedang malas kembali ke rumah, karena di rumah sedang ada bapak Firman yang tak lain dan tak bukan adalah ayahnya.
Tin tin tin.
Tlakson Vano di depan gerbang rumah Dino. Dan selanjutnya hal yang kata orang paling tidak enak akan Vano jalani, yaitu menunggu. Sudah 5 menit lebih Vano menunggu, namun Dino belum juga menampakkan batang hidungnya dari balik gerbang.
Grup chat Hamba Allah:
VanoFP: Menunggu hal yang tak pasti itu sakit cuy
Didit_HA: Lo kenapa Van?
VanoFP: menunggu Dino yang tak kunjung membuka gerbang
Yahya_HA: gerbang hati?
Heri_321: Lo ke rumah Dino Van?
Tin tin tin
Tlakson Vano lagi karena Dino yang tak kunjung keluar dari rumahnya.
“Sabar elah, gue baru abis boker, ampe belum sempet gue cuci ni tangan.” Dino menyodorkan nyodorkan tangan kanannya. Bagai kucing yang di beri ikan asin, Vano pun menarik tangan Dino yang disodor sodorkan padanya menuju lubang penciumannya.
“Anjjj, abis makan apa lo?! Bau banget!” Vano seketika menghempaskan tangan Dino dari hadapan hidungnya.
“Namanya juga bekas cebok, ya bau lah.” Kata Dino membela dirinya sendiri.
Vano yang tak tahan dengan bau tangan Dino hampir saja akan mengeluarkan semua isi perutnya.
“Lo kalo mau muntah jangan di sini, elah. Ayo masuk ke dalam.” Ajak Dino.
“Lo si kebangetan, temen dateng bukannya di sambut dengan baik, malah di kasi tangan bau taik.” Dumel Vano dengan menaiki motornya untuk di bawa masuk ke pekarangan rumah Dino. Dino bisa dibilang anak orang yang beruang, buktinya rumah yang ia tempati atau yang kini sedang Vano kunjungi termasuk rumah yang megah.
“Nyokap bokap lo beneran nggak di rumah Din?” Tanya Vano ketika kakinya mulai memasuki ruang tamu di rumah Dino.
“Iya, baru aja mereka tadi siang pergi keluar kota.” Jawab Dino.
Vano yang mendengar jawaban Dino pun hanya mengangguk- anggukkan kepalanya.
“Ini Den, minuman sama camilannya.” Ucap seorang perempuan paruh baya dengan menaruh minuman dan camilan ke meja tamu.
“Iya, makasih Mbok.” Balas Vano kepada perempuan paruh baya tersebut.
Didit_HA: lo kerumah Dino Van? (2)
Yahya_HA: (3)
“Gimana Din? Mereka boleh kesini nggak?” Tanyaku pada Dino setelah melihat notifikasi dari grup HA.
“Asik tu kayaknya kalo pada ke sini, kan jarang mereka kesini.” Jawab Dino.
VanoFP: Yo A, sini kuy
“Kita langsung ke kamar gue aja Van.” Dino berjalan menuju kamarnya dengan di belakangnya di buntuti oleh Vano.
“Lo tumbem mau nginep di sini Van, ada apa emangnya?” Dino memang sudah hafal dengan gerak gerik Vano, tanpa Vano bercerita pun Dino pasti sudah dapat menebak apa yang sudah terjadi pada Vano.
“Bokap gue di rumah.” Dengan satainya Vano berucap. Dino yang mendengarnya pun selanjutnya tak berkomentar apapun, karena ia sudah mengetahui alasan apa yang membuat Vano enggan untuk di rumah jika ayahnya pulang.
“Din, lo inget nggak cowok yang dulu kita lihat sama Alana pas kita main skateboard?” Tanya Vano pada Dino dengan meminum satu gelas minum yang di sajikan dengan satu tegukkan sambil bersandar pada daun pintu kamar Dino.
“Iya, kenapa emang?”
“Lo tahu siapa dia?” Seketika raut wajah Vano menjadi serius.
“Mana gue tahu, emang gue dukun.” Kata Dino asal.
“Emang lo bukan dukun, siapa yang bilang kalo lo dukun?” sahut Vano yang sedikit kesal.
“Emang tu cowok siapa?” kepo pun mulai bermunculan di benak Dino, dan sudah dapat dipastikan berbagai pertanyaan pun akan dilontarkannya.
Vano yang semula melirik jendela kamar Dino, mengalihkan pandangannya pada Dino dan menjawab pertanyaannya.
“ Dia kakaknya Alana.” Jawab Vano dengan satu tarikan nafas.
Melihat ekspesi yang timbul di wajah Vano, menjadikan Dino heran. Kalo cowok itu kakaknya Alana lalu apa yang perlu di khawatirkan? Kira-kira itulah pertanyaan yang selanjutnya berkecambuk di fikiran Dino. Dino yang tak mau hanya karena menebak-nebak apa yang terjadi pada Vano dan menjadikan dia sulit tidur, Dino pun kembali mengutarakan pertanyaan.
“Terus apa masalahnya kalo cowok itu kakak Alana?”
“Tapi lo harus janji nggak akan ketawa setelah mendengar cerita gue.” Kata Vano memberi persyaratan.
“Ok ok, cepet cerita jadi kepo gue.” Dino menarik tangan Vano dan mengajak Vano untuk duduk bersila di atas kasur empuk miliknya.
Baru saja Dino dan Vano mendapatkan posisi yang nyaman untuk bercerita, datanglah Heri, Didit, dan Yahya yang datang di saat yang pas.
“Wishhh, ada apaan ini?” cerocos Didit yang mendapati Dino dan Yahya bersila di atas kasur.
“Ini nih, si Vano mau cerita.” Jawab Dino.
“Gue ketinggalan cerita apa nggak ini?” sahut Yahya yang langsung ikut bersila di atas kasur dan diikuti Heri dan Didit.
Karena semua teman-temannya sudah ada, Vano pun mulai bercerita. Vano menceritakan semua yang ia alami sebelum ia datang ke rumah Dino. Mulai dari ia yang tanpa sengaja melihat Alana dengan seorang pria, ia yang bertemu Alana dengan pria tersebut, ia yang bersalaman dan berkata ngawur (asal) pada pria yang bersama Alana, ia yang terkejut setelah mengetahui bahwa pria yang bersama Alana adalah kakaknya, dan ia yang malu akan apa yang sudah ia lakukan.
Alhasil Dino, Yahya, Heri dan Didit tergelak mendengar cerita Vano. Mereka berempat tertawa dengan nyaringnya hingga memenuhi ruangan kamar Dino, sedangkan Vano hanya diam menahan amarah karena teman-temannya yang tak kunjung berhenti tertawa.
“Anjj, udah dong ketawanya.” Kata Vano yang kesal.
“Lagian lo sih Van nekat baget.” Sahut Yahya.
“Ya kan gue nggak tahu.” Vano melakukan pembelaan untuk dirinya sendiri.
“Iya, tapi menurut gue apa yang lo lakuin itu emang hal yang ternekat yang gue ketahui.” Didit pun ikut andil suara.
“Ok ok, gue emang nekat. Terus gue harus ngapain?” Tanya Vano kemudian meminta pendapat pada teman-temannya.
“Lo harus minta maaf!” Jawab keempat teman Vano bersamaan.
-Flashback off-.
Dari kejauhan gerbang sekolah Vano melihat Alana sedang mengobrol dengan kakaknya. Vano pun menjadi bingung harus berbuat apa pada mereka jika ia melewati Alana dan kakaknya. Namun akhirnya Vano memutuskan untuk mentlakson Alana dan kakaknya ketika ia melewatinya. Setelah itu Vano langsung menuju tempat parkir.
Setelah menaruh motornya di tempat parkir, dengan sedikit berlari Vano segera menuju lorong sekolah untuk menemui Alana.
“Alana!” panggil Vano yang jaraknya masih agak jauh dari Alana. Namun Alana masih saja terus berjalan, mungkin itu karena jarak Vano yang masih jauh menjadikan Alana tidak mendengar Vano.
“Alana!” panggil Vano untuk yang kedua kalinya dan hasilnya masih sama. Alana masih terus saja berjalan. Karena Alana yang masih saja belum bisa mendengarnya, Vano pun memutuskan untuk mempercepat larinya.
“Alana!” panggil Vano untuk keberkian kali dengan jarak yang hanya beberapa meter. Alhasil Alana pun menjadi clingukan mencari orang yang memanggilnya.
“Lo gue panggil panggil dari tadi kok nggak nyaut sih.” Kata Vano kemudian dengan terengah-engah setelah berhadapan dengan Alana.
“Gue nggak denger.” Jawab Alan singkat.
“Lo marah ya sama gue?” Tanya Vano yang hanya mendengar jawaban-jawaban singkat dari Alana.
“Nggak, buat apa gue marah?”
“Soal yang kemarin.”
“Nggak, gue nggak marah.”
“Kakak lo?”
“Nggak, justru dia tadi malah titip salam buat lo.”
Lega. Itulah yang kini Vano rasakan setelah mengetahui bahwa Alana dan kakaknya tidak marah kepadanya. Karena bel yang sudah berbunyi Vano dan Alana segera menuju kelas mereka masing-masing.
# # #
Bel istirahat sudah berbunyi dengan nyaringanya di seluruh penjuru kelas, seluruh siswa pun berhenti berkutat dengan pelajaran dan beralih dengan aktifitas lain.
“Na aku mau ke perpus, kamu mau ikut nggak?” tawar Viona yang sudah berdiri di ambang pintu kelas. Alana lantas berdiri dan berjalan menuju pintu kelas.
“Kamu mau ikut Na?” Tanya Viona yang melihat Alana mendekatinya.
“Nggak.”
“Terus?”
“Mau ke toilet.” Karena tindakan Alana, Viona menjadi geram pada Alana.
“Isshh, ku kira.” Geram Viona.
“Udah sana ke perpus, aku mau segera ke toilet buat buang urin yang udah penuh.” Alana mendorong-dorong Viona kearah jalan menuju perpus.
“Iya iya, ini juga mau ke perpus.” Sahut Vion. Sementara Viona ke perpus dengan salah satu teman sekelasnya, Alana pergi ke toilet sendiri. Toh jarak kelasnya dan toilet tidak terlalu jauh.
“Uhh, lega juga akhir_”
“Heh lo! Lo udah bosen hidup tenang atau lo sengaja cari gara-gara sama gue hah!” Dengan menyudutkan Alana, Tasya menatap Alana dengan tatapan tajam.
“Apa maksud kakak?” Alana masih berusaha sopan kepada Tasya yang notabenya adalah kakak kelasnya.
“Lo nggak usah sok polos! Lo kemarin pergi sama Vano kan?! Ngaku lo!” Tasya lebih mendekat ke Alana.
“Iya emang kenapa?” Jawab Alana dengan entengnya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya.
“Lo amnesia atau pikun, gue kan pernah bilang sama lo, jauhin Vano!” Kata Tasya tepat di depan wajah Alana.
“Gue nggak deketin Vano, tapi dia sendiri yang ngajak gue.” Balas Alana melakukan pembelaan. Tasya yang semakin marah pun selanjutnya tak hanya menatap Alana dengan tatapan tajamnya. Tangannya mulai bekerja dengan mencengkram lengan Alana.
“Jadi lo itu lebih cantik gitu dari gue?” Tasya mengeratkan cengkramannya pada legan Alana. Alana yang tak mau lebam ditubuhnya bertambah karena ulah Tasya, Alana memutuskan untuk memohon pada Tasya agar melepas cengramannya.
“Kak please jangan sakitin tubuh gue. Kakak boleh bentak gue sekenceng-kencengnya, tapi jangan sakitin tubuh gue.” Lirih Alana.
“Oo jadi lo nggak mau gue sakitin tubuh lo?” Tasya mengendorkan cengramannya.
“Jauhin Vano! Atau lo akan dapat yang lebih.” Tasya langsung pergi meniggalkan Alana yang memegangi bahunya.
# # #