Download App
7.17% GIVE ME LOVE / Chapter 17: Sang Kakak dan Sang Adik

Chapter 17: Sang Kakak dan Sang Adik

Nadia dan Bianca duduk di ruang tamu rumah Lucas. Keadaan di rumah Lucas tampak sepi karena orangtuanya masih belum pulang dari luar kota. Selama di tinggal ke luar kota, Lucas tinggal sendirian dan terkadang minta di temani oleh Mark untuk begadang atau ketika ada tugas kuliah.

Sementara kedua gadis itu duduk dengan tenang, dan Nadia terus memperhatikan sang adik dengan tatapan masih khawatir juga belum bisa tenang.

"Ada nya cuma air putih, maaf ya..." Lucas datang dengan tiba-tiba, lalu menyodorkan dua buah gelas air putih.

Nadia tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Terimakasih," sahutnya sambil meraih salah satu air di dalam gelas yang baru saja di sodorkan oleh Lucas itu untuk adiknya.

Sementara Bianca masih diam termenung. Sepertinya dia masih terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Nadia pun berusaha menenangkan adiknya itu.

"Ca, kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" tanya Nadia dengan lembut.

Bianca menggeleng pelan. Gadis itu tidak mau bersuara. Sementara Lucas mengamati tubuh Bianca, atau lebih tepatnya dia melihat ada beberapa tanda merah di leher jenjang milik Bianca itu.

"Apa yang kamu lihat?! Rotasi kan bola matamu itu," ketus Nadia ketika menyadari adiknya di tatap lapar oleh Lucas.

"Ck, galak sekali kamu ini," cebik Lucas dan berlalu pergi ke kamarnya.

"Aku akan menghubungi Mama dan Papa. Kamu tenang saja, ya. Semua akan baik-baik saja. Jangan takut lagi karena ada aku di sini," ucap Nadia sambil mengelus lembut surai panjang Bianca.

"J-jangan. Jangan beritahu Mama dan Papa tentang ini," cegah Bianca saat Nadia mulai mencari kontak nama di ponselnya.

Nadia mengernyitkan keningnya bingung. "Kenapa tidak boleh? Kamu harus ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan mu," tutur Nadia.

Bianca menggeleng kuat. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir kan aku. Jika kamu memberitahu mereka tentang ini, nanti kamu yang akan di salahkan sama Mama dan Papa," sahut Bianca dengan pelan.

"Bianca mengkhawatirkan aku lagi?" batin Nadia.

Nadia tersenyum tipis. "Kamu yakin baik-baik saja? Tidak perlu ke dokter?" tanya Nadia memastikan.

Bianca mengangguk. "Iya, jangan khawatir. Aku hanya terkejut saja, dan aku baik-baik saja," jawabnya dengan yakin.

Bianca memang tidak mau di bawa ke rumah sakit untuk di periksa keadaannya sebab ia memang merasa bahwa dirinya sudah lebih baik dan tidak merasakan sakit di tubuhnya. Terlebih lagi, Bianca memikirkan bagaimana nasib Nadia nanti jika sampai kedua orangtuanya tau apa yang sudah menimpa dirinya.

Meski ini semua murni bukan kesalahan Bianca atau Nadia, tetapi yang pasti jika Nadia terlibat maka sudah jelas jika Mama dan Papa nya akan menyalahkan Nadia. Bianca tidak mau jika hal itu sampai terjadi, dan pada akhirnya Nadia hanya bisa menuruti permintaan dari sang adik yang sangat ia sayangi itu.

"Baiklah. Tapi, jika kamu merasa ada yang tidak enak di badan mu, kamu harus segera memberitahu ku. Mengerti?" tutur Nadia sambil tersenyum tipis.

Bianca mengangguk lagi, dan kedua sudut bibirnya terangkat. Gadis itu tersenyum untuk pertama kalinya semenjak sikapnya berubah kepada Nadia. Nadia di buat senang bukan main.

Keadaan menjadi hening sesaat karena Nadia dan Bianca sama-sama canggung. Ini adalah pertama kalinya mereka duduk berdampingan lagi dan hanya berdua setelah sekian lama. Nadia sangat bahagia bisa mendapatkan sedikit perhatian dan pengertian dari Bianca, tetapi Bianca tampak seperti biasa saja dan tidak ada yang spesial.

Hingga beberapa saat kemudian, Rafa datang dari luar membawakan beberapa makanan dan minuman untuk Nadia dan Bianca. Remaja laki-laki itu penuh perhatian dan sangat khawatir pada Nadia maupun Bianca.

Terlebih lagi ia tau dengan pasti apa yang akan di lakukan oleh Dilan dan kedua temannya tadi.

"Makanlah, kalian pasti lapar kan. Apalagi kamu Bianca, kamu pasti sangat terkejut kan?" ucap Rafa sambil menyodorkan bungkus makanan itu.

Bianca hanya menatap datar Rafa yang juga melihat ke arahnya. Gadis itu tampak tidak perduli sama sekali. Sementara Nadia menatap Bianca dengan tatapan bingung sekaligus heran, kenapa Bianca tidak bisa menghargai kebaikan orang lain sedikitpun. Setidaknya Bianca memang harus mengatakan terima kasih sebab Rafa sudah menyelamatkan dirinya.

Nadia tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya menatap Rafa, "Terimakasih atas bantuan mu, Rafa. Jika kamu tidak datang, aku dan Bianca sudah tidak tau lagi akan jadi seperti apa," ucapnya.

"Tidak apa-apa. Jangan pikirkan itu lagi, sekarang kalian sudah aman," sahut Rafa cepat.

Nadia mengangguk dan masih tersenyum tipis.

"Bolehkah aku tidur di sini saja?" Bianca menyela pembicaraan mereka berdua.

"Tapi, Mama dan Pa--"

"Mereka sedang ke luar negeri selama satu Minggu, tadi sore Mama mengirim pesan padaku," potong Bianca sebelum Nadia menyelesaikan ucapannya.

Lucas menyembulkan kepalanya dari dalam kamar. "Ada yang ingin menginap di sini?" tanyanya dengan nada sok polos.

Bianca mengangguk. "Aku akan menginap di sini semalam," jawabnya antusias.

"Aku juga!" sahut Nadia.

"Dan aku juga!" sahut Rafa juga.

"Kamu juga?!" sahut Nadia, Bianca dan Lucas bersamaan.

Rafa mengangguk kuat. "Iya, kenapa?" tanyanya dengan raut wajah datar tak mengerti maksud ketiga orang itu.

"Kamu pikir rumahku penginapan atau bagaimana? Untuk apa kamu juga ikut menginap?" ketus Lucas.

"Hei! Kamu pikir aku bisa membiarkan orang mesum seperti mu bersama dengan dua gadis di malam seperti ini sendirian? Ck, jangan mencoba mengambil kesempatan," cebik Rafa sambil memutar kedua bola matanya malas.

"Wah... Kamu benar-benar ya. Tidak bisakah kamu berpikir positif sedikit saja tentang ku? Kenapa hidupmu selalu menaruh curiga padaku ha?" debat Lucas merasa di tuduh oleh Rafa.

"Memang kenyataannya seperti itu!" sarkas Rafa yang masih tak mau mengalah.

Nadia dan Bianca menghela nafas berat. Kedua remaja cantik itu sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang di lakukan oleh kedua remaja laki-laki itu. Rafa dan Lucas benar-benar seperti layaknya anak kecil yang bertengkar hanya karena sebuah mainan saja.

"Aku tidak jadi menginap di sini," ucap Bianca pada akhirnya karena ia mulai muak dengan perdebatan Rafa dan Lucas.

"Aku juga. Lebih baik kita pulang saja," imbuh Nadia.

"Iya, itu lebih baik. Kalian jangan menginap di sini jika tidak bersama dengan ku," sahut Rafa menggebu-gebu.

"Baiklah, kita pulang sekarang? Kamu sudah bisa berjalan atau belum?" tanya Nadia pada Bianca.

"Biar aku gendong..." itu Lucas yang menyela.

Lucas segera mendekati Bianca dan mengambil ancang-ancang untuk menggendong nya. Namun Bianca sudah melemparkan tatapan matanya yang tajam pada pemuda tampan itu.

"Hentikan. Aku bisa berjalan sendiri," ucap Bianca dengan nada dinginnya yang mana langsung membuat nyali Lucas menciut seketika.

Lucas yang berada di depan Bianca itu pun memundurkan tubuhnya beberapa langkah. Lebih baik ia menjauhi Bianca daripada mendapatkan masalah yang lebih parah nantinya. Percayalah, Bianca yang bersikap dingin terlihat lebih menyeramkan di bandingkan orang yang sedang marah tak terkendali.

"Kenapa kamu lebih seram dari kakak mu," gerutu Lucas.

Nadia terkekeh melihat Lucas yang bergindik takut pada Bianca. Lalu gadis itu berdiri membantu Bianca untuk berjalan. Keduanya mengucapkan terimakasih pada Lucas karena sudah di izinkan untuk istirahat sejenak di rumahnya.

"Aku anter pulang ya?" tawar Rafa.

Nadia hanya tersenyum dan mengangguk. Tidak ada alasan untuk menolak karena sudah tentu mereka membutuhkan bantuan orang lain supaya tidak kerepotan jika pulang sendirian.

"Yeee si kadal, ngatain orang cari kesempatan dia nya sendiri sama aja," cebik Lucas .

"Diam kamu. Bilang ke Kak Mark aku mengantar mereka dulu," ketus Rafa.

"Ck, iya-iya. Ya udah sana. Hati-hati," sahut Lucas dengan ogah-ogahan.

"Iya. Cerewet sekali kamu ini!" pamit Rafa dan berlalu menghilang dari balik pintu rumah Lucas.

Setelah ketiga remaja SMA itu pergi, Lucas segera menutup pintu rumahnya karena keadaan sudah sangat sepi. Lucas sedikit lega karena mereka semua sudah dalam keadaan baik-baik saja.


next chapter

Chapter 18: Kasih sayang dan cinta

Kini Rafa, Nadia dan Bianca sudah sampai di rumah. Nadia segera mengantar Bianca masuk kamar dan mengganti pakaiannya. Sedangkan Rafa masih menunggu di ruang tamu rumah keluarga Nadia.

Nadia benar-benar harus memastikan bahwa keadaan adiknya sudah baik-baik saja baru dirinya akan merasa tenang. Bianca sangat berarti bagi Nadia, maka dari itu Nadia selalu mengutamakan Bianca lebih dahulu di bandingkan dirinya sendiri.

Meski Bianca mendapatkan perlakuan berbeda dari kedua orang tuanya, tetapi Nadia tidak pernah merasa iri sedikitpun pada adiknya itu. Entah apa yang di pikirkan oleh Nadia, tetapi yang jelas itu semua tidak menjadi alasan untuk Nadia membenci Bianca.

Gadis cantik itu hanya berpikir bahwa mungkin memang belum saatnya ia mendapat cinta atau kasih sayang dari kedua orang tuanya sendiri, namun ia selalu berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pasti juga akan mendapatkan kasih sayang yang sama seperti apa yang selama ini Bianca dapatkan. Entah kapan itu waktunya, tetapi yang jelas Nadia yakin waktu yang lama itu akan datang.

"Kamu benar-benar tidak apa-apa kan? Kalau ada yang sakit kasih tau aku ya, jangan diam aja nanti kalau makin parah bahaya," tutur Nadia sambil tersenyum memandang Bianca yang saat ini sudah berbaring di atas ranjang kamarnya.

"Iya, udah baik-baik aja kok. Mau tidur sekarang," sahut Bianca acuh dan segera membalikkan badannya enggan menatap sang kakak.

Nadia yang melihat itu hanya bisa menghela nafas berat dan tersenyum kecut, ia tau kalau memang sifat adiknya itu seperti ini. Tidak heran jika Bianca kembali bersikap dingin lagi kepadanya, sebab gadis itu adalah tipe orang yang selalu melupakan kejadian yang telah berlalu.

"Aku keluar dulu ya, kamu istirahat yang cukup," pamit Nadia dengan lirih.

Tidak ada sahutan apapun dari Bianca, gadis itu berpura pura memejamkan matanya agar sang kakak mengira bahwa dirinya sudah terlelap seperti biasanya. Sementara Nadia mengulurkan tangannya mengusap lembut puncak kepala adiknya itu.

"Seburuk apapun perlakuan kamu ke aku, aku akan tetap menyayangimu Bianca!" ucap Nadia dengan tulus.

Beberapa saat kemudian, Nadia keluar dari kamar Bianca dan menghampiri Rafa yang duduk sendirian di ruang tamu. Menyadari bahwa Nadia sudah keluar dari kamarnya, Bianca langsung berbalik badan menatap pintu yang sudah tertutup kembali.

"Aku juga menyayangi mu kakak," gumam Bianca sambil meneteskan air matanya.

*** ***

Nadia menghampiri Rafa yang masih duduk santai di ruang tamu, gadis itu tersenyum tipis agar suasana tidak canggung.

"Bagaimana Bianca?" tanya Rafa sambil beranjak dari duduknya ketika menyadari bahwa Nadia sedang berjalan menghampiri dirinya.

"Sudah lebih baik, sepertinya dia sudah tertidur..." jawab Nadia jujur.

"Ah, syukurlah kalau begitu," ucap Rafa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Nadia tersenyum dan ikut mengangguk. Sementara Rafa mulai canggung, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal .

"Emm, aku pulang ya. Sudah sangat larut," ucap Rafa.

"Iya," sahut Nadia singkat.

Kedua remaja itu kemudian berjalan menuju luar rumah, keduanya masih saling diam dan keadaan saat ini benar benar terasa sangat canggung. Hingga akhirnya Nadia berusaha untuk kembali membuka pembicaraan.

"Eumm, bagaimana dengan urusan di kantor polisi?" tanya Nadia sambil terus berjalan mengantar Rafa ke depan rumah.

Kini mereka berdua masih ada di teras rumah.

"Sudah di urus Kak Mark, mungkin besok kamu dan Bianca harus ke kantor polisi memberikan kesaksian dan juga keputusan untuk menindaklanjuti laporan itu," jelas Rafa.

Nadia mengangguk paham. Ia sedikit merasa lega karena ada yang menangani kasus ini, dan yang jelas ia tidak akan memaafkan Dilan dan kedua temannya itu dengan mudah. Bianca sangat berarti bagi Nadia, maka dari itu ia tidak akan melepaskan remaja berandalan itu begitu saja nantinya.

Remaja cantik itu terdiam tidak mengatakan apapun.

"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Rafa yang masih belum mengetahui apa penyebab gadis itu dan adiknya hampir di perkosa oleh Dilan dan kedua temannya.

Nadia mendongak menatap wajah Rafa.

"Apanya?" tanya Nadia balik karena ia tak paham dengan pertanyaan Rafa.

"Kenapa bisa kamu hampir di perkosa Dilan?" Rafa memperjelas pertanyaannya.

Gadis itu terdiam sejenak, mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Ia perlu menenangkan dirinya sebelum memulai bercerita.

"Aku hanya menyelematkan Bianca, tapi aku tidak tau kalau Dilan akan berbuat senekat itu juga padaku," lirih Nadia.

"Apa dia menyentuh mu?" tanya Rafa sedikit posesif.

Nadia diam, ia tak paham dengan arti menyentuh yang Rafa tanyakan padanya.

"Maksud ku menyentuh lebih dari dia mencengkeram kedua tangan mu," lanjut Rafa.

Nadia menggeleng. "Tidak, t-tapi dia hampir mencium bibir ku," jawab Nadia polos.

Tangan Rafa tiba-tiba meraih tubuh Nadia, kemudian memeluknya erat. Rasa sesaknya yang sedari tadi seakan lepas begitu saja mendengar pernyataan jelas dari mulut gadis itu. Bagaimanapun juga Rafa tidak akan rela jika Nadia di sentuh oleh laki-laki lain.

"Jangan pergi sendirian lagi, ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa," bisik Rafa penuh kasih sayang.

Nadia hanya terdiam membisu, jantung nya berdetak tidak normal. Mungkin Rafa dapat merasakan detak jantung nya saat ini. Ini adalah pertama kalinya bagi Nadia di peluk oleh orang asing selain keluarganya... Dulu?

Beberapa saat kemudian, Rafa melepaskan pelukannya. Lalu tangannya meraih kedua pipi Nadia dan mengelusnya lembut. Sepasang manik hitam legam itu menatap manik cantik berkilau milik Nadia.

Cupp...

Rafa mencium bibir Nadia sekilas. Membuat Nadia terkejut bukan main, dan sepertinya ia akan pingsan di tempat.

"Maaf, aku tidak ingin orang lain mencium mu. Aku tidak rela," ucap Rafa.

Nadia mendorong tubuh Rafa sedikit menjauh. Ia merasa sudah di rendahkan begitu saja sebab remaja laki-laki itu mencium bibirnya tanpa permisi.

"M-memangnya siapa kamu mengatakan itu padaku?" sahut Nadia gugup.

"Aku? Aku orang yang perduli padamu, orang yang akan selalu ada di samping mu. Nadia, a-aku--"

"Pulanglah!" potong Nadia dengan cepat.

Rafa hampir mengungkapkan perasaan nya pada Nadia. Tapi, sepertinya ini bukan saat yang tepat. Sepertinya Nadia juga tau apa yang akan di ucapkan oleh Rafa, maka dari itu ia berusaha untuk menghentikannya supaya Rafa tidak terlanjur mengatakannya.

"Biarkan aku melanjutkan perkataan ku dulu," pinta Rafa.

"Ini sudah malam, Rafa. Aku lelah, aku butuh istirahat. Apa kamu paham?" sahut Nadia pelan.

Rafa menghela nafas berat. "Baiklah,"

Akhirnya Rafa menyerah dan ia berpikir bahwa memang bukan hari ini saatnya untuk dirinya mengungkapkan semuanya.

"Hati-hati di jalan. Sekali lagi, terimakasih..." Nadia membungkuk kan badannya dan segera masuk ke dalam rumah.

Gadis cantik itu benar-benar terburu-buru masuk ke dalam rumah dan segera menutup dan mengunci pintu rumahnya dengan rapat. Sementara Rafa menatap pintu rumah Nadia yang sudah tertutup dengan rapat itu dengan tatapan sendu.

"Mungkin belum saatnya," gumam Rafa sambil tersenyum kecut.

Setelah itu, Rafa segera pergi meninggalkan rumah Nadia untuk pulang ke rumahnya karena hari benar-benar sudah semakin larut.

*** ***

Di kamar, Nadia duduk di atas tempat tidurnya. Gadis itu mengelus dada nya dan tangan kirinya memegang bibirnya yang tadi di cium sekilas oleh Rafandra.

"Jantung ku... Ahh, itu ciuman pertama ku... Rafandra... Kamu keterlaluan..." ucap Nadia kesal.

Saking kesalnya, gadis itu kemudian membanting tubuhnya di atas kasur dan menutup wajahnya dengan bantal.

Sepertinya malam ini ia tidak akan bisa tidurrr dengan nyenyak :)


Load failed, please RETRY

Gifts

Gift -- Gift received

    Weekly Power Status

    Batch unlock chapters

    Table of Contents

    Display Options

    Background

    Font

    Size

    Chapter comments

    Write a review Reading Status: C17
    Fail to post. Please try again
    • Writing Quality
    • Stability of Updates
    • Story Development
    • Character Design
    • World Background

    The total score 0.0

    Review posted successfully! Read more reviews
    Vote with Power Stone
    Rank 200+ Power Ranking
    Stone 0 Power Stone
    Report inappropriate content
    error Tip

    Report abuse

    Paragraph comments

    Login

    tip Paragraph comment

    Paragraph comment feature is now on the Web! Move mouse over any paragraph and click the icon to add your comment.

    Also, you can always turn it off/on in Settings.

    GOT IT