Download App
2.99% Love Is Universal / Chapter 8: LIU | 07

Chapter 8: LIU | 07

Gavin melihat seluruh lukisan yang terpajang di sana seraya melangkahkan kakinya demi melihat satu per satu lukisan yang ada sampai ia memberhentikan langkahnya tepat di depan salah satu lukisan yang ada di sana. Seakan lukisan itu memanggilnya, ia mengamati lukisan itu hingga--

"Kau akan bertemu dengannya dan segera menyatu menjadi satu. Genggam tangannya, jangan melepaskannya kembali seperti yang kau lakukan pada masa dimana kau tidak bisa melakukan apapun untuknya. Jangan menjadi orang bodoh yang hanya berdiam diri di tempat mu tanpa melakukan sebuah pengorbanan yang besar. Jangan biarkan dia mengorbankan dirinya kembali."

--ia mendengar suara yang tidak tahu darimana asalnya.

Gavin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah kaca itu, namun ia tidak menemukan siapapun di sana. Gavin kembali menaruh estensitas nya pada lukisan yang ada di depannya setelah ia tidak mendapatkan apa yang ia cari. Gavin berpikir sejenak, sampai dia--

"Dia berharap bahwa kau merasakan dan menemukan keberadaannya."

--kembali mendengar suara yang sama dengan suara sebelumnya.

Ia mengerutkan keningnya, kali ini Gavin tidak mengedarkan pandangannya melainkan ia memandang lukisan yang ada di depannya itu.

Sudah dikatakan bukan, kalau lukisan itu seakan memanggilnya? Gavin berpikir, apakah lukisan itu hidup? Maksudnya, memiliki jiwa tersendiri layaknya ada kekuatan mistis yang terkandung dalam lukisan tersebut.

Apakah suara yang ia dengar sedari tadi berasal dari lukisan yang ada di depannya saat ini?

Gavin terus memandangi lukisan tersebut memfokuskan seluruh intensitasnya pada lukisan yang ada di depannya.

Gavin terlalu fokus sampai pada detik berikutnya ia mendengar suara pintu yang terbuka. Suara tersebut seketika menarik intensitasnya dari lukisan itu dan mengalihkannya pandangannya ke arah pintu dimana Gavin yakin pasti ada orang yang masuk ke dalam rumah kaca ini.

Gavin melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu sebagai satu-satu nya akses untuk masuk ke rumah kaca ini. Ia terus membawa kakinya sampai pada akhirnya ia telah berada tidak jauh dari depan pintu rumah kaca ini. Gavin membulatkan matanya tidak percaya saat melihat siapa yang masuk ke dalam rumah kaca ini.

Itu, tepat di depannya adalah orang yang sama dengan orang yang ia lihat beberapa jam yang lalu.

Rasanya Gavin ingin ke sana dan menyapanya yang tanpa sadar kakinya sudah membawanya untuk menemui orang yang baru saja masuk.

Berbeda hal nya dengan orang yang Gavin maksud. Gray, ia tidak menyadari bahwa ada orang lain di tempat favoritnya itu. Ia tidak tahu ada orang selain ia yang berada di rumah kaca ini. Ia tidak menyadarinya bahwa Gavin sedang memandang ke arahnya yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya.

Sampai pada akhirnya Gavin sudah berada tepat di depan Gray dimana hal tersebut membuat Gray tersentak kaget. Terlihat dari kedua bola matanya yang indah itu membulat dengan sempurna.

Otaknya seakan berhenti bekerja yang membuat tubuhnya tidak dapat bereaksi.

Sistem otaknya terllu lama bekerja untuk hal yang seperti ini. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Ia tidak pernah dalam situasi seperti ini.

Sementara Gavin sendiri ia terpesona dengan apa yang ia lihat saat ini. Begitu indah, begitulah yang ia pikirkan.

"Hai." Sapa Gavin saking tidak tahunya harus bereaksi seperti apa karena suasana yang canggung itu.

Suasana yang tiba-tiba sangat canggung untuknya karena ini untuk pertama kali nya ia bertemu dengan orang yang selama ini membuatnya hampir mati penasaran ditambah paras nya yang begitu indah.

Gray? Ia hanya diam seribu bahasa layaknya ia tidak mampu berbicara. Suaranya tidak mau keluar layaknya ia seperti orang yang tidak dapat berbicara alias bisu.

Tubuhnya menegang.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya mengingat perkataan orang tuanya yang selalu mengatakan untuk tidak bertemu dengan siapapun itu atau tidak ia akan mendapatkan hukuman yang menurutnya mengerikan saat kedua orang tuanya itu mengucapkan kata hukuman. Orang tuanya tidak ada mengatakan hukuman apa yang akan ia dapatkan nantinya. Tapi, cara penyampaian orang tuanya tentang hukuman mampu membuatnya bergidik ngeri.

Seketika ia menjadi takut.

Gray yang tiba-tiba terserang panik dadakan itu langsung melangkahkan kakinya untuk pergi, namun sayangnya Gavin lebih cepat dari perkiraannya. Gray juga berpikir kalau Gavin tidak akan menahannya yang sesungguhnya itu pemikiran yang cukup bodoh kalau dilihat dari situasinya.

Mana mungkin Gavin dengan mudahnya melepaskan dirinya kalau sudah seperti ini bukan?

Gavin juga tidak bodoh untuk memahami apa yang sedang dipikirkan oleh Gray orang yang sedang ia tahan saat ini.

Ia memahaminya bahwa orang yang ada di depannya ini sedang berpikir untuk melarikan diri darinya.

"Tidak perlu takut, aku tidak akan menyakitimu." Kata Gavin untuk meyakinkan orang yang sedang ia tahan dalam genggamannya.

Gavin tidak tahu aja kalau Gray itu bukan takut padanya, melainkan ia takut pada ancaman yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Gray juga tahu kalau Gavin tidak akan menyakitinya mengingat Gavin merupakan sepupunya. Anak dari saudara ayahnya.

"B-bisakah--"

"Ada apa? Kau takut padaku? Tenang, aku tidak akan menyakitimu." Potong Gavin.

Ia tahu betul apa yang ingin dikatakan oleh Gray padanya.

Gavin melihat ke sekitarnya sampai ia menemukan sebuah bangku yang tersedia di sana. Tanpa pikir panjang, Gavin menarik lengan Gray yang sudah ada dalam genggamannya menuju ke arah bangku yang ia temukan.

Bukannya Gavin tidak tahu bagaimana perasaan orang yang ada dalam genggamannya itu ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh Gray walau tidak sepenuhnya ia mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Gray.

"V-vin." Panggil Gray yang dimana membuat langkah Gavin terhenti saat Gray memanggil namanya.

Gavin mengerutkan keningnya saat mendengar namanya dipanggil oleh Gary, membalikkan badannya ke arah Gray dan bertanya, "Kau tahu namaku?" Tanyanya tidak percaya takut-takut ia salah dengar.

Gray yang baru saja menyadari dengan apa yang ia lakukan, Gray langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia bungkam seketika.

"Tadi kau menyebut namaku kan?" Tanya Gavin lagi yang mendapat gelengan dari Gray.

"Tidak, tidak, aku sangat yakin tadi kau memanggil namaku. Aku tidak salah dengar, kau memanggil namaku tadi. Pendengaranku masih bagus, kau tidak bisa membohongiku." Kata Gavin masih tidak percaya.

Gray yang mendengarnya hanya diam seribu bahasa menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak mau keceplosan untuk ke sekian kalinya.

"Apa kau tahu aturan kalau ada orang bertanya itu harus di jawab sesuai dengan apa yang kau ketahui tentang apa yang ditanya orang tersebut?" Kata Gavin menatap ke arah Gray.

Jangan lupakan Gavin masih menggenggam tangan Gray. Ia takut kalau ia melepaskan genggaman itu, Gray akan kabur.

"Sekarang aku bertanya dan kau harus menjawabnya. Pertanyaanku itu sangat mudah untuk di jawab. Kau tidak perlu memikirkan jawaban layalnya kau sedang menjawab soal tes." Kata Gavin mendesak jawaban dari Gray.

Sementara Gray masih pada posisinya. Diam layaknya patung. Gray tidak mau membuka suaranya dan memberitahu siapa dia sebenarnya.

Sungguh ia takut dengan situasi seperti ini meningat perkataan dari orang tuanya yang sebelumnya dimana terkandung sebuah ancaman di kalimatnya.


Chapter 9: LIU | 08

"Aku menunggu." Kata Gavin mendesak Gray saat ia tidak mendapatkan jawaban apapun darinya.

Sungguh, tatapan Gavin lebih menakutkan daripada ancaman orang tuanya yang sampai sekarang ia belum tahu apa yang akan ia dapatkan saat ia memberitahu idebtitasnya pada orang lain. Terutama pada sepupunya.

"Y-ya." Kata Gray setelah sekian lama ia beridam diri tanpa mengeluarkan suaranya.

Sungguh ia takut.

Ia tidak pernah berpikir akan berada di posisi seperti ini. Ia sudah cukup nyaman dengan dunianya yang menurutnya menyenangkan itu. Gray tidak tahu saja bahwa dunia luar itu lebih menyenangkan walaupun dunia luar itu terlihat begitu kejam.

"Dairmana? Darimana kau mengetahuinya?" Tanya Gavin lagi.

Diam, Gray kembali menutup mulutnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Memeberitahu Gavin adalah pilihan terburuk.

Ddrrtttt... Dddrrtttt...

Gavin merogoh kantong celananya saat ia merasakan ada getaran di bawah sana. Mengambilnya dan melihat siapa orang yang menghubunginya di jam segini.

"Paman?" Katanya mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang menelponnya saat ini.

Gray merasakan jantungnya berdetak begitu cepat seperti jantungnya itu akan lepas serta keluar dari tempatnya saat tidak sengaja melihat handphone yang ada dalam genggaman Gavin.

Gray mencoba menarik tangannya dari genggaman Gavin yang tentu saja itu tidak akan berhasil.

Gavin yang melihat reaksi dari orang yang ada di depannya itu kembali di buat bingung. Gavin dapat melihat Gray begitu gelisah, wajahnya seketika pucat, serta keringat yang mulai berkeluaran.

Gavin menggerakkan tangannya untuk menekan tombol hijau tersebut bermaksud untuk mengangkatnya, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat gerakan kepala Gray yang menggeleng dimana itu sebagai kode supaya Gavin tidak mengangkat telpon itu.

"J-jangan." Kata Gray dengan suara yang bergetar ketakutan.

Gavin diam sejenak untuk berpikir sampai--

"Aku tidak akan mengangkatnya. Tapi, ada harga yang harus kau bayar."

--ia mengeluarkan suaranya dimana Gavin membuat kesepakatan bersama Gray bermaksud mencari sedikit informasi.

Gray yang panik tidak tahu harus bagaimana langsung menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan apa yang dikatakan Gavin.

"Baiklah." Katanya memasukkan kembaki handphonenya. "Kau harus menjelaskan segalanya." Lanjutnya menarik tangan Gray pergi dari sana.

Sementara Gray hanya diam mengikuti langkah kaki Gavin walaupun ia tidak tahu kemana Gavin akan membawanya. Gray sudah tidak tahu lagi, ia tidak bisa berpikir dengan jernih.

Gavin terus menarik tangan Gray untuk mengikuti langkah kakinya sampai pada dimana mereka sudah berada di dalam mansion. Tepatnya di ruang keluarga.

Gavin mendudukkan Gray di sofa yang ada di sana. Menatapnya sebentar membuat Gray yang ditatap semakin takut.

"Katakan, siapa kau? Aku tahu kau selama ini tinggal di sini, tapi aku tidak pernah mencari tahu tentang keberadaanmu sampai aku sudah tidak tahan lagi untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi."

Gray hanya bisa diam membisu.

"Kita sudah membuat kesepakatan atau kau mau aku menghubungi paman Fritz?"

Mendengar itu Gray langsung menatap ke arah Gavin tepat pada matanya seraya menggelengkan kepalanya brutal. Sungguh ia takut walau ia sendiri tidak tahu hukuman apa yang akan ia dapatkan.

"Katakan." Kata Gavin menuntut membuat Gray menundukkan kepalanya takut

"A-aku Gray." Katanya berusaha untuk tenang.

"Nama panjangmu?" Tanya Gavin membuat Gray berpikir sejenak.

Gray tidak mungkin memberitahu nama panjangnya bukan? Kalau Gray memberi tahunya, ia pasti akan terkena masalah.

"Aku masih menunggu."

"Gray Chilla Fritz." Katanya cepat saat mendengar suara Gavin seakan ingin membunuh seseorang.

Gavin? Jangan tanyakan lagi keadaannya. Ia tidak sebodoh itu untuk mengetahui nama keluarga yang di sandang oleh orang yang bernama Gray itu. Ia tidak bodoh dalam menangkap suatu situasi yang ada.

Pertama, nama keluarga orang yang bernama Gray itu Fritz

Kedua, orang yang bernama Gray itu tinggal di kediaman keluarga Fritz pamannya.

Ketiga, pamannya itu tidak pernah mau menerima bahkan sampai menanpung orang asing selama itu kecuali itu para pekerja yang dipekerjakan pamannya untuk mengurus mansionnya dan segala keperluan keluarganya itu.

Ketiga fakta tersebut sudah cukup memperkuat dugaan yang ada dalam benak nya.

"Terakhir, apa kau mengenal Arsenio Fritz? Apa hubunganmu dengannya?"

Tentu pertanyaan Gavin yang satu itu mampu membuat Gray diam seribu bahasa dengan jantung yang berdetak tidak beraturan.

"Aku bertanya padamu. Apa kau mengenalnya?" Tanya Gavin saat tidak mendapatkan jawaban apapun.

Diam, hanya ada keheningan yang tercipta di sana.

"Jangan katakan padaku bahwa kau anak dari Arsenio Fritz." Pernyataan ranjau dari Gavin mampu membuatnya tahu jawaban apa yang akan ia terima dapat dilihat dari bagaimana Gray bereaksi.

DEG!

Pernyataan Gavin itu mampu membuat Gray sedikit kesusahan dalam bernafas. Dalam selang waktu yang dekat, ia terus dikejutkan dan dibuat takut atas pernyataan, pertanyaan, serta perbuatan yang dilakukan maupun kata-kata yang di keluarkan dari mulut Gavin orang yang ada di depannya saat ini.

Gavin membulatkan matanya, terkejut. Ia tidak percaya bahwa dugaannya tersebut tidak meleset.

Gavin tidak pernah berpikir bahwa pamannya itu memiliki dua anak. Lalu kenapa pamannya itu menyembunyikan anak nya selama itu? Sampai anak itu sebesar ini? Itulah kira-kira yang ada dalam benak Gavin.

Ia masih berdiam diri dalam keterkejutannya dengan fakta yang baru saja ia ketahui. Sungguh luar biasa. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran pamannya itu.

Gavin bertanya-tanya apa penyebab pamannya itu merahasiakan keberadaan anaknya ini.

Gavin juga tidak habis pikir bagaimana bisa pamannya itu hidup bahagia dan membiarkan salah satu anaknya hidup dalam penderitaan tanpa ada pengakuan dari sang ayah untuk mengakui keberadaan sang anak. Sungguh ini di luar akal pikirnya.

Gavin melihat ke arah Gray yang sepertinya kesulitan dalam bernafas. Ia berjongkok untuk menyamakan dirinya dengan Gray. Seketika ia dibuat panik detik itu juga saat melihat wajah Gray yang pucat serta nafasnya yang terputus-putus.

Gavin berpikir sejenak apa yang harus dia lakukan. Ia tidak tahu harus melakukan apa di saat seperti ini. Otaknya seakan berhenti berpikir saat ia terserang rasa panik yang mendadak seperti saat ini.

"Hei, kau mendengarku?" Tanyanya memegang pundak Gray

"Gray? Kau bisa mendengarku?" Tanyanya sekali lagi, kali ini ada sedikit guncangan yang ia lakukan berharap mendapatkan respon dari orang yang ada di depannya itu.

"Gray? Hei, sadarlah." Katanya menepuk pelan pipi Gray.

"Kalau kau bisa mendengar suaraku, ikuti apa yang aku katakan. Bernapaslah pelan-pelan. Ikuti aku. Tarik napas dalam-dalam, lalu buangkan dari mulut secara perlahan." Kata Gavin berharap mendapatkan reaksi dari Gray, namun pada kenyataannya ia tidak mendapatkan respon apapun yang membuat Gavin semakin panik.

Ia berlari meninggalkan Gray sendirian di sana menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya. Dia tidak mau mengambil resiko. Ia akan membawa Gray ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih serius karena ia bukan seorang dokter ditambah ia tidak paham soal yang beginian.

Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Gavin langsung berlari keluar kamar dan mengarah ke ruang keluarga dimana ia meninggalkan Gray sendirian di sana.

Gavin langsung menggendong tubuh Gray menuju ke mobilnya. Meletakkannya di bangku depan, serta measangkannya pengaman.

Gavin langsung menuju bangku kemudi, menghidupkan mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Gavin tidak ingin mengambil resiko.


Load failed, please RETRY

Gifts

Gift -- Gift received

    Weekly Power Status

    Batch unlock chapters

    Table of Contents

    Display Options

    Background

    Font

    Size

    Chapter comments

    Write a review Reading Status: C8
    Fail to post. Please try again
    • Writing Quality
    • Stability of Updates
    • Story Development
    • Character Design
    • World Background

    The total score 0.0

    Review posted successfully! Read more reviews
    Vote with Power Stone
    Rank 200+ Power Ranking
    Stone 0 Power Stone
    Report inappropriate content
    error Tip

    Report abuse

    Paragraph comments

    Login

    tip Paragraph comment

    Paragraph comment feature is now on the Web! Move mouse over any paragraph and click the icon to add your comment.

    Also, you can always turn it off/on in Settings.

    GOT IT