"Ya, itu adalah sebuah kutukan."
Kamu kembali ke desa dan bergegas menuju dokter untuk melihat apakah kami bisa mendapatkan perawatan untuk Raphtalia.
"Ini juga sangat kuat. Pegunungan naga itu dikuasai oleh kutukan sekuat itu?"
"Yah... Sebenarnya... tidak...."
Aku nggak yakin apakah aku harus jujur tentang apa yang terjadi. Aku bingung.
"Ya, secara nggak sengaja daging naga itu mengenai aku, dan daging itu membakarku seperti ini..."
Raphtalia berbicara dan menatap mataku seolah untuk mengatakan bahwa itu adalah rahasia kita.
"Bisakah kau melakukan sesuatu untuk dia? Kami akan membayar apapun yang kau butuhkan."
Raphtalia adalah seorang cewek. Dia nggak boleh menjalani kehidupan dengan dipenuhi bekas luka yang hitam dan mengerikan ini.
"Yah, ada satu hal...."
Dokter itu masuk ke ruangannya dan kembali sambil membawa sebuah botol yang berisikan cairan bening.
"Ini sangat kuat... meski aku tidak tau apakah ini bisa menyembuhkan dia."
"Apa itu?"
"Air suci. Kutukan lebih baik dihilangkan dengan air suci..."
"Oh...."
Shield of Rage gak cuma melukai korbannya, itu juga akan memberi kutukan pada lukanya sehingga luka itu nggak akan sembuh.
Itu terdengar semakin dan semakin berbahaya. Perisai itu disertai dengan sebuah serangan balik yang nggak membedakan antara kawan atau lawan.
Dan aku melihat pohon perisainya, dan pohon itu nggak berkembang sama sekali.
Itu cuma sebentar, tapi sekarang aku tau bahwa aku nggak boleh membuka perisai itu.
"Kita akan membasahi perbannha dengan air suci sekarang..."
Dia membasahi perbannya, lalu perban yang basah itu dililitkan pada luka Raphtalia.
"Aku nggak bisa bilang dengan pasti apakah ini akan bekerja... Kalau kau bisa, kau harus pergi ke kota besar dan membeli air suci yang dibuat oleh gereja."
"Berapa banyak yang kami butuhkan untuk menyembuhkan dia?"
"Sejujurnya... kutukannya sangat kuat. Aku nggak tau apakah kau bisa menyembuhkannya... Bagaimana bisa naga itu melakukannya...?"
Akulah yang melakukannya... Itu adalah salahku. Tapi sepertinya kutukan itu cukup kuat sampai-sampai orang-orang percaya bahwa kutukan itu dilakukan oleh seekor naga.
"Ok... Berapa banyak obat yang sudah kau buat?"
"Aku baru membuatnya sedikit. Beloved Saint, tolong bantu orang-orang yang sakit."
"Tentu."
Aku mempercayakan Raphtalia pada dokter itu dan pergi ke bangunan yang dipenuhi dengan orang sakit.
Kau bisa bilang bahwa obat itu dibuat oleh seorang profesional.
Obat itu betul-betul menyembuhkan penyakit yang gak bisa kutangani menggunakan obatku sendiri.
Aku memperhatikan para pasien yang ada disana, tertidur pulas dan merasa lega.
Aku ingin kekuatan... Aku ingin menjadi cukup kuat hingga aku nggak perlu bergantung pada perisai itu.
Aku ingin bisa menyembuhkan orang-orang, bukan mengutuk mereka! Itu adalah karena kelemahanku.
Itulah akar dari semuanya. Aku benci kelemahanku.
Filo selamat. Dia baik-baik saja. Tapi ada saat-saat ketika dia nggak baik-baik saja, saat dia membutuhan aku. Saat dia menghilang dari depan mataku, aku sepenuhnya lepas kendali.
Aku membiarkan pikiran itu tetap ada di benakku. Ini bukanlah game.
Jika seseorang mati, mereka nggak akan kembali hidup. Aku mendapati diriku menatap kuburan yang ada dibelakang bangunan.
Mereka menghianati aku... menipuku! Ada alasan yang lebih bagiku untuk... untuk melindungi orang-orang yang mempercayai aku.
Aku kembali ke tempat dokter itu dan menemukan Raphtalia duduk disana, berbalut perban. Aku meminta maaf.
"Aku minta maaf."
"Nggak apa-apa."
"Tap aku...."
"Aku lebih takut kamu pergi... pergi ke suatu tempat yang jauh dariku."
"Apa?"
"Kekuatan itu, ingin membawamu ke suatu tempat yang jauh. Itulah yang kurasakan. Jadi kalau aku bisa menghentikan kamu, untuk menahanmu disini, maka luka-luka ini adalah harga yang murah."
Dia tersenyum, dan aku merasakan sebersit emosi yang tajam.
Aku harus melindungi dia. HARUS. Aku bertekad untuk nggak akan pernah kalah pada perisai itu.
Dan kemudian... Aku menyadari bahwa lari dari kelemahan... Bahwa lari dari kelemahan adalah kelemahan itu sendiri.
"Raphtalia... Kamu masuk kedalam pertempuran untuk mencegah ini, kan?"
"Apa?"
"Saat kita melawan naga itu, aku memerintahkan kamu untuk mundur. Tapi kalau kamu mundur, kamu nggak bisa melindungi aku."
Aku salah. Cuma melindungi... cuma lari... nggak akan cukup.
Yang bisa kulakukan adalah melindungi.
Tapi... Tapi saat aku melindungi mereka, aku harus memastikan musuh dikalahkan... sehingga aku nggak akan kehilangan teman-temanku.
Semua ini... semua ini menyakitkan karena aku harus lari dari kelemahan.
"Kamu salah! Aku... Aku berlari kedepanmu, untuk memuaskan diriku sendiri."
Raphtalia dengan tegas menolak teoriku.
"Keberanian dan kecerobohan bukankah hal yang sama. Aku ceroboh, dan kamu terus berusaha mengekang aku untuk melindungi aku... Tapi aku... Tapi aku..."
Bahkan tanpa berpikir tentang hal itu, aku mengulurkan tanganku dan menyentuh pipinya. Air mata mengalir di jariku.
"Sama seperti keberanian dan kecerobohan yang merupakan hal yang berbeda, begitu pula dengan waspada dan pengecut. Kamu bukan pengecut. Nggak seorangpun bisa melindungi seorang pengecut."
Jadi aku ingin memimpin penyerangan. Aku ingin berdiri didepan agar aku bisa melindungi Filo dan Raphtalia.
Saat di pegunungan, kalau aku berada didepan, aku bisa mengeluarkan Air Strike Shield, dan Filo bisa menggunakannya sebagai pijakan. Lalu naga itu nggak akan menelan dia.
Aku takut kehilangan dia.
"Jadi jangan kuatirkan itu. Lihatlah seberapa banyak pengalaman yang kita dapatkan, dan kita nggak kehilangan siapapun. Kita bisa menggunakan apa yang telah kita pelajari dimasa depan. Kita lebih kuat hari ini maka esok juga demikan."
Mata Raphtalia dipenuhi air mata, dan dia mengangguk.
"Ya... Jangan maju terlalu jauh... Jangan pula mundur terlalu jauh... Itu adalah suatu keseimbangan yang sulit."
"Memang, tapi kurasa kita bisa melakukannya. Ingat saja bahwa Pahlawan Perisai, aku, berdiri di barisan depan. Melindungi dirimu sendiri, dan jika kamu mendapati dirimu cukup luang, lindungi yang lainnya. Itu mudah."
"Saat kamu memikirkannya seperti itu, itu terdengar mudah."
"Itu akan mudah."
"Apa mbakyu baik-baik saja?"
Filo menjulurkan kepalanya kedalam ruangan, dan melihat kearah Raphtalia dengan gugup.
"Aku baik-baik saja."
Ini akan jadi hari istirahat untuk Raphtalia. Filo dan aku pergi keluar.
"Master!"
"Apa?"
"Aku biasanya berpikir bahwa aku berharap aku bisa tetap menjadi seorang manusia selamanya.... karena kamu dan dia begitu dekat."
Dia dalam wujud manusia, dan tersenyum.
"Tapi aku nggak bisa. Itu menyenangkan untuk menarik kereta, dan aku cuma menipu diriku sendiri karena aku ingin kamu menyukai aku. Bahkan jika aku berpura-pura menyukaimu, aku nggak bisa melakukannya!"
"....."
"Tapi, Master! Aku adalah Filo yang sama, nggak peduli apapun wujudku."
"Itu benar."
Aku terkejut saat dia berubah menjadi manusia, tapi aku nggak merasa aku memperlakukan dia secara berbeda. Meski begitu, aku memperlakukan dia seperti anak kecil.
"Aku ya aku, Master ya Master, dan mbakyu ya mbakyu, kan? Kamu nggak bisa menjadi siapapun juga selain dirimu sendiri, dan aku... aku nggak bisa menjadi manusia sejati. Tapi meski demikian, nggak seorangpun yang bisa menggantikan aku, bukankah begitu?"
Itu kan alasan dia berubah menjadi manusia?
Aku mengangguk dalam menanggapi rentetan pertanyaannya.
"Tapi, apa kamu tau? Aku menyukaimu, Master! Aku menyukaimu sebesar Mbakyu menyukaimu! Aku akan menjadi Filo yang terbaik yang aku bisa!"
"Itu... bagus."
Siapa yang menyangka Filo akan menceramahi aku mengenai hal ini?
Melindungi semua orang seharusnya adalah tugasku, tapi aku menyadari, dengan takjub, bahwa aku nggak marah karena mendapati tugasku dicuri dariku. Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu?
"Apa kau tau? Demi Master dan Mbakyu, aku akan melakukan apapun yang aku bisa! Aku akan berusaha keras, yup!"
"Baguslah. Gimanapun juga melindungimu adalah tugasku."
"Yup!"
* * * * *
Kami menghabiskan hari dengan bersantai di kereta.
Esok harinya kami bekerja keras untuk berusaha menghapus penyakit itu.
Dokter menanyai aku apakah aku bisa melakukan sesuatu, dan aku mulai membuat obat. Kami menyelesaikannya lebih cepat daripada yang kami duga. Aku berpikir bahwa dia bisa mengajariku sesuatu tentang obat dan penyembuhan, tapi aku kurang pengetahuan, dan aku nggak mau mengganggu.
"Terimakasih banyak, Beloved Saint!"
Seorang cewek muda dari rumah sakit melambaikan tangan padaku dan bilang terimakasih.
Apa aku... melindungi mereka?
Aku bertekad untuk tidak lari. Kalau aku lari, aku nggak bisa melindungi orang-orang yang harus kulindungi, dan aku cuma menyelamatkan nyawaku sendiri—tapi hal itu membuatnya menjadi kehidupan yang nggak layak.
Aku nggak lagi sendirian.
Aku adalah orangtua bagi Raphtalia dan Filo sekarang, dan aku harus melakukan apapun yang aku bisa untuk membuat dunia yang lebih baik untuk mereka, untuk membuatnya menjadi sebuah tempat dimana orang-orang bisa menjalani kehidupan dalam kebahagiaan.
"Tuan Naofumi?"
"Master!"
"Huh? Ada apa?"
Aku sedang berjalan-jalan di desa saat Raphtalia dan Filo memanggilku.
"Kamu terlihat betul-betul... kuatir?"
"Ya!"
"Jangan kuatir tentang itu."
"Tapi Master! Kau itu orang yang kuatiran! Tentu saja kami kuatir."
"Kuatiran?"
"Ya. Belakangan ini kamu selalu mengatakan pada kami 'apa kamu baik-baik saja?'"
"Dia benar. Tapi kamu nggak perlu kuatir lagi."
"Tapi aku...."
"Jangan perlakukan kami seperti anak kecil lagi. Kami bisa mengurus masalah kami sendiri."
"Ya!"
"Aku tau kami peduli pada kami... tapi disaat yang sama, kami juga peduli padamu, Tuan Naofumi. Kita akan baik-baik saja jika kita bersama."
"Ya!"
"Kamu benar."
Raphtalia sudah tumbuh. Dia punya pemikiran sendiri dan perasaan sendiri, sepertnya kedewasaannya telah menyusul penampilannya. Aku nggak bisa memperlakukan dia seperti anak kecil lagi.
Kurasa kami sekarang adalah sebuah tim.
Mengkhawatirkan semuanya sendirian nggak akan bagus untuk semua orang. Aku nggak bisa membawa kedamaian pada dunia ini sendirian. Satu kali menghadapi gelombang kehancuran membuat hal itu terlihat jelas, dan itu lebih jelas lagi buatku, sang Pahlawan Perisai, yang bahkan nggak bisa menyerang sendiri.
Kalau kita ingin dunia yang damai, kita harus bersama-sama.
"Baiklah. Ayo lakukan.... bersama-sama."
"Oh! Master tersenyum!"
"Dia benar. Dan itu bukanlah senyum palsu yang aneh juga. Itu adalah senyum yang sebenarnya."
Mereka berdua tersenyum balik padaku.
Heh... Apa begitu? Apa aku nggak pernah senyum?
Terserahlah.
Aku tersenyum sekarang.
Karena aku punya teman yang bisa kuandalkan.
***
"Tuan Naofumi, aku bisa melihat uap."
Hari itu kami berjalan-jalan sambil berada diatas kereta yang ditarik Filo saat aku berbicara pada Tuan Naofumi.
Dia bilang bahwa kita sedang menuju ke kota yang ada sumber air panasnya, dan aku sangat gembira saat tiba.
"Huh? Sudah kelihatan?"
"Bau sekali!"
Filo melihat kebelakang dari tempatnya yang berada didepan kereta dan berkomentar.
"Itu sulfur. Sumber air panas sering kali beraroma seperti itu."
"Apa sumber air panas itu enak?"
"Sumber air panas bukannya enak tapi nyaman. Meski telur dari sumber air panas memang enak sih."
"Sumber air panas bertelur?"
"Tidak, tidak. Orang-orang merebus telur di sumber air panas. Ada kue beras sumber air panas juga, meskipun mungkin nggak ada di dunia ini."
Tuan Naofumi meluangkan waktunya dan menanggapi masing-masing pertanyaan Filo.
"Kita akan menjual obat disini, kan?"
"Ya. Aku akan mencari kamar untuk kita di penginapan. Raphtalia, kamu urus penjualannya."
"Baik."
"Mengingat ini adalah sebuah sumber air panas, kita bisa beristirahat sebentar dan bersantai disini. Dua atau tiga hari harusnya cukup."
Filo dan aku tertawa.
Kami terus bepergian belakangan ini jadi kami nggak benar-benar mendapatkan waktu untuk bersantai.
Terutama Tuan Naofumi. Dia selalu membuat obat atau bekerja mengikuti buku, atau mempelajari sihir. Dia nggak mendapatkan waktu istirahat sama sekali.
Kupikir bahwa istirahat beberapa hari untuk bersantai kedengaran seperti sebuah ide yang bagus.
"Kedengarannya seperti ide yang sangat bagus, Tuan Naofumi."
"Jadi kita bisa bermain besok, kan Master?"
"Yah, aku masih harus mengerjakan obat-obat ini, jadi aku nggak bisa terlalu banyak bersantai. Tapi aku mungkin bisa mandi-mandi di pemandian air panas. Filo, siap-siap berhenti."
"Oke!"
* * * * *
Ada banyak dokter dan perawat yang mengunjungi sumber air panas, dan mereka membeli obat-obat milik Tuan Naofumi dari kami dengan cepat. Nggak lama setelah itu, kami kehabisan stok.
Jadi kami kembali ke penginapan dan berendam di pemandian air panas.
"Aku akan menemui Master!"
"Tidak, jangan. Kamu cuma akan membuat dia jengkel."
"Tapi, nggak apa-apa. Dia menyukai aku."
"Apanya yang nggak apa-apa?! Itu pemandian pria. Kau seorang gadis kan?"
Tapi Filo nggak mendengarkan. Dia memanjat pagar pembatas pemandian dan melompat ke sebelah.
"Master! Ayo main!"
"Filo? Oh, oke. Pastikan kau masuk kedalam air. Kau berendam."
"Oke."
Aku bisa mendengar suara Tuan Naofumi dan Filo dari sisi lain pagar.
Apa.... Aku merasa seperti aku telah kalah.
Aku duduk di air dan membiarkan mataku berkeliaran. Itulah runcian cerita dari sumber air panas.
Ada seekor babi perak? Saat para penduduk mengalahkan babi itu, ada sumber air panas yang muncul dimana babi itu jatuh. Sejarah itu ditulis seperti sebuah kisah tua.
Dan juga dikatakan bahwa sumber air panas itu adalah sumber air panas cinta.
Jika seorang pria dan wanita memasuki sumber air panas itu bersama-sama, mereka akan terikat seumur hidup.
Dan sekarang Filo dan Tuan Naofumi berendam bersama!
"Ugh...."
Aku mulai merasa kepanasan karena duduk di air terlalu lama, jadi aku memutuskan untuk keluar.
* * * * *
Saat aku kembali ke kamar, Tuan Naofumi juga ada disana, sudah meninggalkan pemandian lebih awal. Dia sedang mempelajari pembuatan aksesoris.
Dia mempelajari banyak hal, tapi belakangan ini dia nggak membuat sesuatu yang berkualitas karena kami nggak punya material yang bagus.
"Raphtalia. Kemarilah lihat ini."
Dia melihat aku masuk ke kamar dan mengindikasi bahwa aku harus duduk di samping dia di ranjang. Dia memegang sebuah botol obat di tangannya.
"Baik."
Tuan Naofumi menyadari seberapa buruk bekas luka di punggungku, lalu dia menerapkan obat itu pada luka-luka tersebut.
Berkat upayanya, kulit di punggungku sekarang terasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Tiba-tiba kisah dari pasangan di pemandian air panas terlintas lagi.
"Tuan Naofumi...."
Aku mengumpulkan keberanianku dan menjatuhkan handuk yang membalutku. Aku ingin dia melihat aku.
Dia punya trauma hubungan masa lalu dengan wanita, jadi aku nggak yakin bagaimana perasaan dia mengenai hal seperti ini.
Tapi aku ingin dia mengetahui perasaanku, jadi aku cuma mengikuti hatiku dan bertindak.
"G-Gimana menurutmu....?"
Apakah aku... menarik? Tuan Naofumi....
Tuan Naofumi menatap punggungku, dan dia kayaknya kebingungan. Aku yakin dia tau apa yang kumaksudkan, dan aku menunggu jawabannya...
"Yah, kurasa itu kelihatan jauh lebih baik. Kamu telah berubah banyak sejak pertama kali kita bertemu."
Jadi dia... Tuan Naofumi memperhatikan aku yang telanjang tanpa So he... Mr. Naofumi looked at my nakedness without even flinching. He just looked at me, observing.
Sebenarnya, akulah yang menjadi semakin emosional. Aku merasa pusing.
"Oh? Apa... um... cuma itu?"
"Apa ada yang lain lagi?"
"Oh, nggak ada."
"Kalau kamu nggak berpakaian, nanti kamu flu..."
"Ah! Mbakyu telanjang!"
Filo masuk kamar dan marah.
Dia melepas pakaiannya untuk menelanjangi durinya sendiri, lalu berlari lurus kearahku. Ini bukanlah permainan!
"Aku mau main juga!"
"Tidak! Hentikan!"
Oh tidak... Aku begitu dekat untuk melakukan pernyataanku yang dalam pada Tuan Naofumi.
* * * * *
Malam datang, dan kami sudah mau tidur. Filo sudah tidur nyenyak di sampingku.
"Um.... Tuan Naofumi?"
"Ada apa?"
Dia masih membuat obat dan nggak akan tidur sampai beberapa saat.
Ini adalah kesempatanku. Aku harus membuat dia tau perasaanku!
"Um...."
"Huh?"
Tuan Naofumi menatapku.
Mungkin itu karena sumber air panas, wajahku terasa panas. Aku merasa seperti mendidih, tapi aku harus mencobanya.
"Tuan Naofumi aku... aku... aku suka kamu."
"Oh ya?"
Aku berhasil! Dia tau! Aku merasa seperti hatiku bisa terbang.
"Aku juga suka kamu... seperti seorang putri."
Itu seperti dia menyiramkan air padaku. Aku terjatuh di lantai.
Ah... Dia memperlakukan aku seperti anak kecil karena dia berpikir dia adalah orangtuaku. Tapi aku bukanlah anak kecil lagi! Aku sudah mengatakan pada dia lagi dan lagi. Namun....
"Ya, kamu sudah dewasa sekarang..."
Betul, dia nggak pernah mengatakan itu padaku.
Dia begitu... dungu! Tapi itulah hebatnya dia.
A-Aku ingin melangkah lebih jauh lagi, tapi sepertinya waktunya nggak pas. Aku merasa itu nggak akan berhasil.
Idealnya adalah dia datang padaku dan dia mengatakan dia cinta padaku. Tapi itu nggak akan pernah terjadi karena trauma yang dia alami. Jadi aku yang akan mengatakan pada dia duluan-lalu kami nisa bersama.
Tapi apa yang harus ku lakukan agar dia memperhatikan?
Lalu aku teringat sebuah cerita yang kudengar saat aku masih kecil.
Ibuku bilang bahwa dia menyadari dia sedang jatuh cinta saat ayah memberi dia sebuah hadiah.
Ya. Saat itulah aku memutuskan apa yang harus kulakukan.
Aku akan memberi dia hadiah yang akan membuat dia sadar dan memperhatikan aku!
Tuan Naofumi membiarkan perisai miliknya menyerap segala macam hal karena itu akan membuat dia lebih kuat. Jadi aku harus mencari sesuatu yang akan membuatku lebih kuat, lebih tangguh, agar dia menyadari aku adalah orang dewasa saat aku menyatakan perasaanku! Lalu dia akan memperhatikan aku!
* * * * *
Esok harinya aku berjalan-jalan di kota dan berusaha mengumpulkan informasi.
"Apa ada material langka di sekitar sini?"
Kalau aku memberi item normal atau yang dikenal luas, Tuan Naofumi nggak akan terkesan. Aku membutuhkan sesuatu yang legendaris.
Saat kami berpetualang untuk membuat pakaian Filo, kami harus menjelajahi reruntuhan. Kalau aku menemukan hal serupa... sesuatu yang nggak bisa didapatkan tanpa adanya bahaya... Ya... maka dia akan memperhatikan aku!
"Sesuatu yang langka? Yah telur sumber air panas Gaggoko sangat terkenal dan lezat."
Pemilik penginapan berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaanku.
"Bukan itu yang kumaksud. Maksudku sesuatu yang lebih... langka. Seperti batu yang cantik atau semacamnya?"
"Mungkinkah seperti Lachium?"
"Apa itu?"
"Itu adalah sebuah mineral yang sangat langka yang cuma bisa ditemukan di wilayah ini. Para Wizard dan Alchemist mau membelinya dengan harga yang sangat mahal. Penduduk lokal menghargainya karena itu sangat membantu orang-orang dalam kehidupan percintaan mereka."
Itu dia! Kalau aku mendapatkan sesuatu yang begitu langka dan berharga sendirian, Tuan Naofumi pasti akan terkesan!
Dan itu membantu dalam kehidupan percintaanmu? Sempurna.
"Dimana bisa mendapatkannya?"
"Kudengar kau bisa mendapatkannya di pegunungan. Tapi sangat sulit untuk menemukannya."
"Aku tau."
"Mereka mengatakan kau bisa menemukan Lachium di sarang Gaggoko."
Aku terus menanyakan pertanyaan sampai aku mengetahui dimana aku bisa menemukan batu Lachium.
Lalu aku bersiap-siap dan pergi untuk mencarinya.
* * * * *
"Harusnya ada di suatu tempat di sekitar sini...."
Aku memegang sebuah peta dengan satu tangan sambil mendaki gunung berapi.
Baunya seperti sulfur, dan sangat panas.
Pemilik penginapan mengatakan bahwa ada monster yang tinggal di ketinggian yang sangat tinggi, dan disana kau punya kesempatan yang cukup tinggi untuk menemukan Lachium dibawah sarangnya.
Monster itu sendiri bukanlah monster yang aneh, tapi yang aneh adalah cara membuat sarangnya. Monster itu akan ditarik ketempat itu oleh sihir yang ada pada batu itu.
Lalu aku menemukannya... sarang yang sedang ku cari-cari.
"Ah...."
Karena aku menatap sarang itu, aku mengarahkan mataku keatasku, dan kemudian, dengan sebuah hantaman, aku menabrak sesuatu.
"Aduh."
Aku jatuh terduduk. Lalu aku menatap sesuatu yang ku tabrak.
"Oh... Mbakyu!"
Filo berdiri disana, sambil memegang sebuah kertas sama sepertiku.
Kertas itu kemungkinan adalah sebuah peta.
"Filo?! Apa yang kau lakukan disini?"
"Itulah yang ingin kutanyakan padamu!"
"....."
Apa yang terjadi? Naluri wanitaku mulai berbisik padaku.
Naluri itu mengatakan bahwa Filo adalah musuhku, bahwa dia berusaha merebut Tuan Naofumi dariku.
Dan dia mengatakannya sekitar seminggu yang lalu. Dia nggak akan pernah membiarkan aku mendapatkan Tuan Naofumi.
Aku harus mencari tau hal ini.
"Filo, aku tanya lagi. Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku, um... kudengar ada suatu jenis makanan lezat disini!"
Sekarang dia menyebutkannya, pemilik penginapan menyebutkan sesuatu tentang telur sumber air panas Gaggoko.
Pasti itu yang dia maksudkan.
"Kalau aku membawa makanan yang lezat dan langka pada Master, dia akan menepuk kepalaku dan mengatakan aku adalah kesayangannya!"
"Nggak akan!"
Apaan sih yang dipikirkan anak ini?
"Gimana denganmu Mbakyu? Apa yang kau lakukan disini! Kau diam-diam!"
Filo memiringkan kepalanya kebingungan, dan aku harus mengakuinya bahwa dia manis.
Tapi kalau Tuan Naofumi direnggut dariku oleh wajah manis ini, aku akan bernasib malang. Apapun yang terjadi, aku nggak boleh kalah dari dia!
"Baiklah kalau begitu, ayo kita lihat hadiah punya siapa yang paling disukai Tuan Naofumi!"
"Baik! Aku nggak akan kalah."
Persaingan sedang berlangsung.
"Hiyaaaaaaaaaaah!"
"Aku nggak akan kalah!"
Filo berlari di lereng yang curam, dan aku berlari dibelakang dia. Aku segera menyusul dia.
Untuk saat-saat seperti inilah aku berlatih! Meskipun Filo mati, aku nggak akan kalah dari dia.
"Guggaga?!"
Gaggoko berteriak saat dia melihat kami berlari kearahnya. Itu adalah seekor burung berwarna putih yang bulat dan besar.
"Enyahlah dari hadapanku!"
"Jangan halangi kami!"
Filo berlari ke sarangnya, tapi aku meraih batu yang berkilauan yang kukihat ada disana.
Tapi kemudian seekor monster muncul dibelakang kami, tertarik oleh teriakan kami dan dipenuhi dengan amarah yang mengerikan. Monster itu berlari kearah kami.
"Apaan itu..."
Kami berdua saling melihat satu sama lain, seolah untuk memastikan apa yang kami lihat. Terlalu lama kami menyadarinya.
"Buruheeeeeeeeeeee!"
Itu adalah seekor babi perak.
Silver Razorback itu tertarik oleh teriakan kami dan berlari kearah kami.
Monster itu lebih besar daripada Filo.
Apa yang akan terjadi kalau seekor monster sebesar itu menyerbu kearah sarang seekor Gaggoko?
Seluruh sarang, berserta kami yang ada didalamnya, terlempar ke udara. Kami terhempas dan tertahan di udara.
Aku melihatnya. Dibawah sarang Gaggoko, ada sebuah batu besar berkilauan. Itu pasti batu Lachium.
Aku melihat bahwa batu yang sama, hancur berkeping-keping karena dampak hantaman itu, berjatuhan disekitar kami.
Di saat yang sama, telur yang dicari oleh Filo terlempar melewati kami, tertahan di udara seperti yang lainnya.
"Gugguga! Gugguga!"
Si Gaggoko merentangkan sayapnya dan terbang menjauh.
Dan dengan sebuah tabrakan, kami semua jatuh ke lereng yang curam itu....
"Ah....."
"Ugh! Telurnya! Makanan kami!"
Kami berdua menyadari bahwa kami telah kehilangan hal yang kami cari. Kami berdua menatap sumber dari kegagalan kami, dan kemudian saling menatap satu sama lain.
"Mbakyu..."
"Ya...."
Si Silver Razorback kayaknya mengerti kalau dia dalam bahaya sekarang, dengan segala kemarahan kami diarahkan pada dia.
"Buruhee?"
Babi itu mulai melangkah mundur.
Tapi meskipun dia berbalik dan melarikan diri-itu nggak akan mengubah nasibnya.
Si Silver Razorback berbalik....
"Hei! Dia kabur!"
"Kau pikir kau bisa lolos dari sini hidup-hidup?"
"Buruheeeeeeeeeeeeeee!"
Babi itu mengeluarkan teriakan mengerikan.
* * * * *
"Whew, lumayan susah."
"Ugh... Telurnya!"
Kami mencari-cari di pegunungan setelah kami bertemu, tapi nggak pernah menemukan apa yang kami cari.
Setidaknya, kami membawa seekor Silver Razorback. Aku menyuruh Filo membawanya.
"Kalian berdua dari mana? Aku mencari-cari kalian."
Tuan Naofumi menunggu kami di gerbang kota.
"Oh kau tau..."
"Huh? Apa itu Filo? Aku belum pernah melihat seekor monster kayak gitu sebelumnya. Ayo potong-potong monster itu dan biar perisainya menyerapnya."
"Baik."
"Uh huh. Yah, aku berada di pegunungan mencari sesuatu saat mahluk ini muncul dan memberi kami masalah. Aku dan Mbakyu mengurusnya."
"Wow! Haruskah kau memotongnya dan memasaknya? Itu kayak seekor babi, jadi kita bisa membuat sup babi?"
"Ya! Kedengarannya bagus! Ayo buat!"
"Ahhhhhhhhhhhhhhhh!"
Ada kerumunan orang menunjuk, berteriak, dan berlari kearah kami.
"Sialan! Kabur!"
"Oke!"
Tuan Naofumi dan aku berlari.
Kami berdua punya reputasi yang kurang bagus di Melromarc, jadi kami sering sekali berhadapan dengan orang yang membenci kami.
Jadi kami sudah terbiasa dengan perlakuan kayak gitu, dan ketika kami melihat orang-orang menunjuk pada kami, kami langsung lari.
Tapi....
"Tolong tunggu! Tunggu! Tolong berhenti!"
Ada sesuatu yang aneh. Jadi kami berhenti.
Lalu kami menyadari bahwa penduduk desa tersenyum dan mengisyaratkan agar kami kembali.
"Kalian telah memburu seekor Silver Lord untuk kami!"
"Silver Lord?"
"Ya, itu adalah binatang yang kami gunakan dalam sebuah upacara di daerah sini. Maukah kalian memberikannya pada kami?"
Betul juga... Saat kami ada di sumber air panas, kurasa aku melihat sebuah lukisan yang menggambarkan sesuatu seperti itu.
Jadi ini adalah monster yang ada di lukisan itu.
Warga desa bersikeras bahwa babi itu tidaklah bagus untuk material, tapi mereka mau membelinya dari kami dengan harga tinggi.
Pada akhirnya, Tuan Naofumi dan semua warga desa memuji aku dan Filo atas usaha kami. Tuan Naofumi menjual babi itu pada mereka, dan bahkan memberikan semua uang penjualannya pada kami.
"Um...."
"Kita sedang liburan, dan kalian pergi dan meluangkan waktu kalian untuk membunuh mahluk itu, kan? Uangnya milik kalian, belilah apapun yang kalian inginkan."
"Mbakyu....."
"Oke."
Filo dan aku memikirkan hal yang sama, dan kami berdua mengambil yang yang ditawarkan pada kami. Lalu aku pergi berjalan-jalan. Ada suatu material tertentu yang Tuan Naofumi inginkan untuk membuat aksesoris. Aku membelinya dan memberikannya pada dia sebagai sebuah hadiah.
"Apa itu? Aku bilang kamu boleh membeli apapun yang kamu mau. Ini pasti mahal."
"Ini dari kami berdua. Kami ingin memberimu hadiah karena kamu selalu mengurus kami."
"Ya! Itu hadiah untukmu, Master!"
Itu akan cukup mudah untuk membeli semuanya sendiri... tapi Filo dan aku membelinya bersama-sama, dan kami berdua benar-benar menginginkan hal yang sama. Kami cuma ingin menunjukkan rasa terimakasih kami pada Tuan Naofumi, jadi kami membelinya.
"Oh... baiklah."
Tuan Naofumi tersenyum canggung dan kemudian mengulurkan tangannya untuk menepuk kepala kami dengan lembut.
"Raphtalia, Filo, terimakasih. Aku menghargainya."
Ugh... Lagi-lagi dia memperlakukanku seperti anak kecil lagi.
Orang satu ini... Dia nggak pernah melihatku sebagai seorang wanita!
Benarkan, Filo?
"Yup!"
Kami saling bertatapan dan mengangguk setuju.
***
您可能也喜歡