Flashback
Hari dimana Sabrina merasakan kesedihan luar biasa, rasanya tidak pernah ia akan melupakan kesedihan yang teramat sehingga menyelubung gelap dalam lubang perasaannya yang terdalam.
Tangisan Sabrina masih saja keluar, rasanya sangat sakit sekali jika dia harus menahannya dengan kuat. Tapi kesedihan itu masih terus saja ia rasakan, duduk bersimpuh dihadapan nisan kedua orangtuanya.
Berkali-kali ia menyeka matanya yang sudah terlihat sangat sembab, dan mulai merasakan panas pada wajahnya yang sudah memerah.
Seseorang menepuk pundak sabrina, sosok Brama Wijaya yang menjadi pengganti ayahnya. "Sudah cukup kamu menangis, Irfan, Rita, dan tante kamu sudah menunggu didalam mobil. Sampai berapa lama kamu akan ada disini?" Tanya Brama dan merangkul Sabrina dengan rasa sayang.
dukung Author ya...
Terimakasih untuk para pembaca yang masih setia membaca hingga bab ini
Jangan lupa dukung dengan...
1. Power Stone
2. Rate bab ini
3. Berikan Review, review bisa berulang-ulang lohh
4. Comment bab ini
Dan Share novel ini pada teman dan keluarga yaa.. hehe
terimakasih