"Kau sangat menderita kak," ucap Ansel sambil mengusap pipi kakaknya.
Dia menemukan air mata di sana, kakaknya tidak pernah meneteskan air mata hanya karena rasa sakit penyakitnya. Dia sangat yakin, jika serangan panik yang baru terjadi, karena perkataan yang menyakitkan di dalam hatinya.
Tit... tit... tit...
Suara bell pintu terdengar, membuat ayah dan ibu Noey melirik ke arah asal suara itu.
Wajah Noey marah, dan penuh dengan emosi.
"Katakan, katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya," kata Noey pada orang tuanya.
Auris yang mendengar kakaknya itu, seketika keluar dari dalam kamar.
"Katakan... apa kalian sembunyikan dariku?" tanya Noey.
Orang tua Noey seketika saling pandang memandang, sedang Aziel yang mendengar suara kakaknya yang tengah marah itu seketika keluar dari dalam kamar.
Aziel yang melihat kakaknya, hanya bisa diam. Dia tidak ingin mencampuri urusan orang dewasa, dan memilih masuk kembali ke dalam kamar.
"Apa maksud kakak?" tanya Auris.