Trigger warning: Suicide.
Untuk yang sensitif dengan konten mengandung adegan bunuh diri, disarankan untuk melewatkan bab ini dan tunggu bab selanjutnya saja, ya. :")
-----------
Saat Alexa baru tiba di pintu dan akan mengulurkan tangan untuk menariknya terbuka, kalimat Skylar dari lorong terdengar dan seketika menghentikan langkahnya.
"Mau keponakanmu ada di sini atau tidak, aku tidak peduli."
Satu kalimat itu membuat tubuh Alexa membeku di tempat. Telinganya berdenging seolah menghalangi semua suara lain. Jantungnya berdegup amat kencang. Dia syok karena ternyata apa yang Alexa khawatirkan benar-benar terjadi, bahwa Skylar mulai terbebani dengan keberadaannya.
Meskipun belakangan ini Skylar selalu mengatakan dirinya tidak akan marah atau semacamnya, Alexa tetap mengira pemuda itu tak sepenuhnya jujur. Bisa saja itu hanya kalimat yang dipoles agar Alexa tidak merasa tertekan, bukan?
Kenapa saya pakai Marigold untuk judul? Bunga Marigold memiliki arti keputusasaan dan kesedihan, jadi cocok untuk chapter ini.
Lalu untuk pembaca yang mengira Alexa lebay sampai bunuh diri hanya karena kalimat Skylar yang ga sengaja dia dengar, sebenarnya seseorang yang mentalnya sedang tidak stabil itu ga bisa mikir jernih. Apa yang ada di kepala mereka adalah cara supaya mereka bisa lepas dari rasa sakit yang menyiksa. Bahkan cara tidak masuk akal pun akan mereka lakukan demi lepas dari rasa sakit itu.
Jadi kalau kalian punya teman yang punya kecenderungan untuk mikir bunuh diri, jangan dianggap sepele. Mungkin kita sering ngira orang yang ingin bunuh diri itu hanya cari perhatian. Yah, mereka MEMANG cari perhatian, karena mereka butuh kita. Jadi kalau ga mampu menghibur dia karena orangnya bebal, paling nggak, rujuk dia ke profesional. Lebih baik mencegah daripada menyesal kehilangan kemudian. :")