Unduh Aplikasi
100% Only June / Chapter 3: Chapter 3 : Alasan

Bab 3: Chapter 3 : Alasan

*๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜Š๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข. ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข*

***

Aku dan Via kembali ke kelas setelah selesai menghabiskan makanan kami dikantin, sembari berjalan menuju kelas kami membahas beberapa hal yang. Em...

"Ken, bagaimana bisa kau menyukai Raid?" Ucap Via sambil berjalan, Via melihat kearahku sekejap sembari tersenyum "ah. Aku tidak mau mendengar Alasan kau menyukainya hanya karena dia yang tertampan di kelas kita ya" Tambah nya sedikit dengan nada ancaman.

Aku tertawa kecil mendengar nya, tentu saja orang-orang akan berfikir aku menyukai Raid karena dia tampan dan pintar.

Karena seperti yang diketahui, yang menyukai Raid bukan hanya aku saja. Banyak gadis-gadis dari kelas lain, kakak kelas kami, bahkan ada beberapa gadis dari Sekolah lain yang juga tertarik oleh pesona Raid. Percayalah dia memang setampan dan semenarik itu.

"Haha.. Entahlah terkadang menyukai seseorang bisa sangat ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข Vi" Ucapku sembari tersenyum menunjukkan deretan gigiku padanya. Via menatapku sarkas.

"Oh ya ampun Ken... Selain wajahnya yang tampan itu, Aku tidak melihat hal lain yang dapat membuat jantung berdebar. Sebenarnya Apa yang kau lihat darinya hm? "

"Entahlah.Aku melihatnya... Seperti..Saat dia muncul, hal lainnya menghilang dan menjadi kabur, hanya dia yg terlihat jelas bagiku. dan kemudian, saat dia berada ditengah semua orang, hanya dia yang bersinar terang" Ucapku seakan sedang membaca puisi, Aku tersenyum ke arah Via yang menunjukkan ekpresi tak bisa ku jelaskan. Aku tahu, penjelasanku itu menggelikan. Tapi seperti itulah Raid dimataku, dia begitu berkilau.

"Ah tentu saja aku tidak melupakan kalau dia begitu tampan dan pintar. Itu adalah Poin penting tahu. Haha" Tambahku yang membuat Via geli dan menutup telinga dengan kedua tangannya.

"Ah Cukup cukup! Telingaku berdenging Ken. Ckck. Bagaimana bisa kau merangkai kata-kata menggelikan seperti itu" Ucapnya terkekeh

"Hahhahha" Gelakku

"Kau bahkan bisa menjadi seorang penyair" Lanjutnya mengejekku.

*

"Vi.lihat.ada apa itu? " Ucapku sembari menunjuk ke arah kelas kami. Memberitahu Via karena kelas kami terlihat begitu ramai.

Saat istirahat tentu saja banyak anak lain yang berlalu lalang melewati kelas kami, dan mungkin ada beberapa yang singgah untuk menyapa kenalannya satu sama lain.

Hanya saja kali ini kelas kami...

Sangat ramai..

Ouh..kurasa bisa ku katakan penuh.

Aku dan Via yang tadinya berjalan santai menuju kelas, saat ini mempercepat langkah kami. Kami kesulitan masuk kedalam, sebab anak-anak lain memenuhi pintu kelas.

Dan sampainya didalam, tentu saja aku langsung mengetahui alasan kerumunan orang-orang ini berkumpul di kelasku.

Aku melihat David sedang mengepalkan tangannya yang siap terbang kearah wajah Aditya serta memegang kerah bajunya, dengan tatapan ingin membunuh.

Kulihat pelipis David sendiri pun sudah berdarah. Ah. Kurasa pertengkaran mereka sudah sejak tadi. Aku ketinggalan banyak hal. Kulihat lagi teman lainnya berusaha melerai mereka, tentu saja termasuk Raid.

Raid dan Aditya berasal dari satu middle school yang sama, persis Via.

Dulu, saat awal pembagian kelas, Dimana kami harus beradaptasi satu sama lain. Raid dan Aditya yang tentunya sudah saling mengenal saat itu, kemudian mulai dekat dengan David dan Nara.

Aku tidak tahu seterusnya. Tapi kulihat setelah itu, Aditya bahkan lebih dekat dengan David daripada Raid dan anak lainnya.

Anak-anak kelas bahkan menyebut Aditya dan David seperti saudara kembar.

Aku ingat, dulu David pernah ditampar oleh petugas keamanan sebab dia bersikeras membela Aditya yg dituduh mencuri uang dan membeli minuman keras.

Saat itu David bersikeras menjelaskan kepada petugas, bahwa Aditya tidak melakukannya, dan saat itu dia sedang bersamanya.

Hingga akhirnya terungkap bahwa yang mencuri uang dan membelanjakan uang tersebut untuk membeli minuman keras bukanlah Aditya melainkan anak dari kelas lain yang memiliki proporsi tubuh yang sama seperti Adit.

Selain itu, aku mendengar dari Bella bahwa keluarga Aditya banyak berinvestasi pada perusahaan keluarga David yg saat itu keuangannya sedang tidak baik, hanya karena orangtua Aditya tahu bahwa David adalah teman anak mereka.

Semenjak kejadian-kejadian tersebut, mereka semakin akrab satu sama lain.

Setidaknya mereka pernah sedekat itu menurutku..

Tapi kemudian apa yang sedang ku saksikan saat ini?

Mereka berdua bahkan saling adu tinju dengan wajah yang masing-masing sudah terluka.

Ada apa dengan mereka?

BUGGG!!!!

Satu hempasan tinju David terbang ke wajah Aditya. Aku tahu bukan hanya aku yang terkejut. Sebab Ruangan yang tadinya riuh seketika hening untuk beberapa saat.

Kulihat wajah Aditya memerah dah bibirnya sedikit berdarah,tapi bukannya mengerang kesakitan. Aditya malah tersenyum sinis menatap tajam David.

Ada apa dengannya. Dia baru saja mendapat tinjuan. Dan dia malah tersenyum?

David yang melihat senyuman itu kembali mengepalkan tangannya lagi. Tetapi berbeda seperti yang tadi, kali ini David terlihat sedikit ragu.

"Kenapa berhenti? Aku meninjumu beberapa kali tadi. Kau tidak berani? Atau kau merasa bersalah? Hah! " Ucap Aditya diselingi senyuman sinisnya yang terlihat mengejek.

Aku sungguh tidak percaya seorang Aditya, pria tampan itu dapat terlihat se-menjengkelkan ini. Yang kutahu Aditya begitu friendly dan baik, ditambah dia juga adalah pria yang humoris.

Tinjuan yang ke-dua kalinya meluncur kembali. Tentu saja sebelum Raid dan Nara menahan lengan David, sementara Nathan dan Aldi memisahkan mereka.

Tidak lama setelah itu, Guru dan Satpam datang. Tentunya untuk melerai mereka dan akhirnya mereka berdua dibawa ke ruang bimbingan.

***

1 jam sudah berlalu, semenjak anak anak lain meninggalkan ruang kelas kami. seharusnya saat ini kami menerima pelajaran matematika dari Pak Dani, yang juga adalah wali kelas kami.

Tapi aku tahu, karena masalah David dan Aditya tadi, tentu saja pak Dani tidak bisa mengajar kami saat ini.

Dan seperti biasa, jika ada masalah atau kejadian besar. Andini dan Bella, temanku, sudah berkumpul untuk membentuk lingkaran kecil di pojok kelas dengan anak lainnya yang haus akan informasi. Ini bisa disebut dengan... Em... Bergosip. Seperti itu

Tentu saja aku juga penasaran dengan apa yang terjadi. Tidak salah bukan. Sesekali bergabung dengan pembicaraan Bella. Toh dia temanku juga.

"Kalian melihatnya kan?! Bagaimana Aditya tersenyum saat David memukulnya tadi. Wah gila!" Ucapan Andini membuka sesi ini

"Menurutku Aditya sangat terlihat keren tadi. Mengingat apa yang dilakukan David terhadapnya. Tentu saja David pantas mendapatkan perlakuan seperti itu" Celetuk Bella temanku. Bella begitu jujur dengan kata-katanya yang sedikit tajam, menurutku

"Ah.kau benar bell. Aku juga tidak menyangka David menghianati Adit seperti itu" Ucap Dania setuju

"Dan lebih parahnya ada gadis tidak tahu malu yang membuat pertemanan mereka menjadi seperti ini" Ucap Bella lagi.

Jujur, Aku belum mengerti sampai sini. Sebelum Bella melirik kearah Nadia dengan tatapan sinis nya. Aku jadi paham semuanya. Ternyata pertengkaran David dan Aditya terjadi karena masalah mereka dengan Nadia. Persis seperti yang kemarin aku dan Bella bicarakan. Aku menyebutnya 'Drama cinta segitiga'

"Bukankah kalian terlalu kasar membicarakannya begitu, aku rasa dia mendengar pembicaraan kita" Ucap Indah sedikit mengecilkan suaranya.

"Untuk apa memikirkan perasaannya. Dia saja tidak memikirkan persahabatan David dan Aditya yang sudah di rusaknya. Hah" Dengus Andini lagi

"Memang apa yang terjadi? " Ceplosku. Dan membuat teman lainnya melihat kearahku dengan kaget dan kesal. Aku sudah tahu inti masalah ini. Tapi untuk alasan Aditya dan David saling adu tinju?. Aku belum mengerti mengapa mereka melakukan hal itu hanya demi Nadia.

"Oh ya ampun Ken.. Inilah mengapa kau harus sesekali bergabung dengan kami. Agar tidak ketinggalan berita seperti ini" Ucap Bella sembari menepuk jidatnya

"Aditya lagi-lagi mengungkapkan perasaannya pada Nadia. Ken,Kau tahu kan Aditya menyukai Nadia sudah lama" Ucap Andini kepadaku memastikan.aku hanya mengangguk tanda 'ya, aku tahu'

"Nadia juga selalu tidak memberi jawaban pasti kepada Adit selama ini, Tapi kali ini, Nadia bilang '๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต,๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ' Aditya yang malang"

Lanjut Bella menjelaskan

"Dan sepertinya Aditya sangat kecewa mendengarnya, kemudian ia mencengkram lengan Nadia dengan keras saat itu

'๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ?!๐˜ด๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜•๐˜ข๐˜ฅ!'

Ucap Aditya sedikit berteriak". Ucap Andini lagi seakan memperagakan Aditya

"Dan setelah itu datanglah David dari luar, melihat hal itu, David langsung menarik Nadia" Ucapnya lagi dan mengajak Bella memperagakan adegan yang mereka lihat. Oh ya ampun. Itu drama sekali.

"Kemudian mereka beradu tatap satu sama lain

'๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ' ucap Adit sambil menatap tajam David

'๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ' tanya balik David pada Aditya. Kau tahu Ken. Situasi kelas saat itu begitu dingin. Kami semua terdiam memperhatikan.

'๐˜ˆ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ! ' ucap Aditya lagi sambil mendorong pundak David.

'๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ' Jderrrrr! kami semua terkejut. Aku bahkan menganga mendengarnya

'๐˜๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข' tawa Aditya pecah. Aku tahu perasaan Adit saat itu

'๐˜š๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜‹๐˜ช๐˜ต, ๐˜•๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ' ucapan kejam dari David pun terlontar

๐˜‰๐˜ถ๐˜ถ๐˜จ๐˜จ๐˜จ๐˜จ!!!

๐˜‰๐˜ถ๐˜จ๐˜จ๐˜จ!!!

Seketika saat itu kami semua membelalakkan mata. Satu pukulan besar diikuti pukulan lainnya menghajar wajah David membuat pelipisnya langsung berdarah. Oh ya ampun aku tidak percaya aku melihatnya dengan mataku sendiri" Andini begitu detail menjelaskan.

Aku terpaku mendengar cerita mereka. Aku sungguh tidak menyangka halhal yang biasa kulihat di film terjadi di kelasku.

"Entah apa yang David pikirkan, kenapa dia mencintai gadis yang sudah dicintai sahabatnya sejak lama" Rutuk Bella menyalahkan David

"Tidak ada yang salah dari mencintai seseorang. Kita juga bahkan tidak dapat memilih siapa yang akan hati kita cintai,bukan? Kenapa kau mendiskriminasi seseorang hanya karena dia jatuh cinta? Apa yang salah dari hal tersebut? Oh ayolah. Kalian tidak memiliki alasan untuk menghakimi dan ikut campur urusan mereka " Ucap seseorang yang membuat kami semua menoleh kearahnya.

Seorang Gadis berkacamata, meski dengan kacamata besar dan segi empatnya itu, dia tetap terlihat cantik dan tentu saja smart. Setidaknya itu adalah first impression yang aku dapat.

Dia duduk di kursi tepat di depan kami. Gadis tersebut sangat percaya diri mengucapkan kata-katanya dengan tatapan mata yang langsung menghujami Bella. Bella langsung kikuk seketika.

"Apa kehidupan kalian begitu membosankan? Sampai kalian begitu asik membicarakan teman kalian sejak tadi? " Ucapnya lagi yang langsung menusuk hatiku.

Dia benar. Aku tidak dapat membantah kata-katanya. Kami semua adalah teman Nadia, David dan Aditya. Lalu saat mereka memiliki masalah. Bukannya membantu, kami malah membicarakan mereka dengan jahat. Terlebih lagi Nadia ada dikelas ini yang mungkin saja mendengar semua obrolan kami dan membuatnya semakin terluka.

Aku tertunduk merasa sangat bersalah dan malu pada diriku sendiri, pada Nadia dan pada Zenna. Ya. Gadis cantik berkacamata itu adalah Zenna.

Meski kami satu kelas, Aku tidak terlalu dekat dan paham akan Zenna. Dia adalah gadis yang pendiam, aku jarang melihatnya bersosialisasi dengan teman lainnya kecuali Naya. Itupun karena Naya adalah teman satu bangkunya. Meskipun begitu, seperti yang aku katakan, dia adalah smartgirl, sehingga banyak dari kami ingin mendekatinya untuk berteman dengannya. Tapi Zenna tetaplah Zenna dengan kepribadiannya yang pendiam itu banyak yang menyerah akan diri-nya.

๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ.....


next chapter
Load failed, please RETRY

Bab baru akan segera rilis Tulis ulasan

Status Power Mingguan

Rank -- Peringkat Power
Stone -- Power stone

Membuka kunci kumpulan bab

Indeks

Opsi Tampilan

Latar Belakang

Font

Ukuran

Komentar pada bab

Tulis ulasan Status Membaca: C3
Gagal mengirim. Silakan coba lagi
  • Kualitas penulisan
  • Stabilitas Pembaruan
  • Pengembangan Cerita
  • Desain Karakter
  • Latar Belakang Dunia

Skor total 0.0

Ulasan berhasil diposting! Baca ulasan lebih lanjut
Pilih Power Stone
Rank NO.-- Peringkat Power
Stone -- Batu Daya
Laporkan konten yang tidak pantas
Tip kesalahan

Laporkan penyalahgunaan

Komentar paragraf

Masuk