Semesta telah menuliskan
yang datang pasti akan pergi
lalu muncul sebuah pertanyaan
apakah yang pergi pasti kembali?
*****
"Kasih gue waktu ya, Lad. Gue kudu pertimbangkan baik-baik," jawab Broto.
Akhirnya mereka lanjut berbincang santai. Tentu saja, sesekali Lady memasukkan bahasan tentang anak dan hubungan yang akan mereka jalani. Seiring waktu, sikap mereka sudah layaknya pasangan kekasih. Kemesraan itu tumbuh perlahan dan natural.
Lady memang berusaha mengarahkan perasaannya sebagai pasangan Broto. Dia tidak ingin pria itu ragu untuk membantu. Tidak mungkin juga bagi wanita itu untuk terus berpura-pura suka.
"Gue harus mencoba untuk benar-benar suka dan menerima Broto sebagai pria milik gue. Dengan demikian, semua tidak akan terasa berat untuk dijalani. Nggak mungkin juga selamanya gue bersandiwara, pasti sangat menderita. Kepalang basah, nyebur aja sekalian," kata Lady dalam hati.
Lady bisa menerima Kala dengan mudah tanpa rasa cinta. Tentu bukan hal sulit juga untuk mulai menyukai pria di hadapannya ini. Toh, Broto juga bukan pria yang buruk rupa, walau mungkin tak setampan Kala.
"Udah malem. Lo harus istirahat. Balik yuk," ajak Broto.
Lady mengangguk dan bangkit berdiri. Mereka berjalan berdampingan menuju tempat parkir.
"See you, Broto" kata Lady sembari mengecup pipi kiri Broto dengan lembut.
"Thanks ya, Lad. See you soon," jawab Broto lalu tersenyum.
Lady melambaikan tangan sebelum masuk ke mobilnya.
Akhirnya mereka berpisah dan menuju rumah masing-masing.
Jika memang ini yang harus gue lakukan, no problem. Demi anak, demi perusahaan, demi Kala, demi keluarga, kata Lady dalam hati meyakinkan dirinya.
Sementara Broto sendiri masih sangat bimbang untuk memilih mengikuti kata hati, atau akal sehat yang melarangnya menyetujui tawaran Lady. Tapi dia sudah jatuh terlampau dalam. Mungkinkah merangkak naik dan keluar dari lubang ini?
Disentuhnya pipi kiri sambil tersenyum. Kecupan itu masih menyisakan rasa bahagia dalam diri Broto.
Sementara tak jauh dari tempat itu, Embun dan Alaska masih menghabiskan malam mereka bersama.
"Al, lo nggak ada rencana punya hubungan yang serius gitu sama cewek?"
Embun memang heran dengan perilaku sahabat satu ini. Berganti pacar semudah berganti kaos kaki.
"Sementara masih ngincipin dulu. Sampai gue bener-bener nemu yang pas dengan selera gue," jawab pria itu santai.
"Emang selera lo yang kayak gimana?" Embun bertanya lagi.
"Kek lo lah. Nyambung, asyik, kalem, tapi nggak manja." Alaska memandang wajah Embun dalam-dalam.
Embun segera meraih gelas minumannya untuk melegakan tenggorokan yang tiba-tiba seperti tercekat.
"Gombalanmu nggak mempan di aku, Al," kata Embun sedikit tidak yakin. Ia mulai merasakan gelagat aneh dari pria di hadapannya.
"Gue nggak gombalin lo. Gue serius. Kalo lo mau jadi cewek gue, gue janji bakal setia dan nggak lirik siapapun," ucap Alaska dengan yakin.
"Alah, Al. Aku tahu track record kamu gimana. Terus aku harus percaya gitu? Perasaan ke semua cewek kamu bilang kayak gitu," balas Embun.
"Kata siapa? Gue aja nggak pernah bilang cinta ke mereka. Kan mereka yang suka ma gue, dan pengen jadi cewek gue. Not me."
Kalimat-kalimat Alaska terdengar santai tapi tegas. Embun tahu, pria ini bukan tipe pembohong atau pembual. Dia memang selalu ceplas ceplos tapi apa adanya.
"Jadi kalo aku jadi cewek kamu, kamu berubah. Gitu maksudnya?" Tanya Embun lagi.
"Iya, gue janji. Gimana? Mau jadi cewek gue?" Alaska sedikit mendesak.
"Aku pikir-pikir dulu, Al. Dengan sikonku kayak gini-"
"Alah, gue udah tahu semua hidup lo. Intinya, lo mau jadi cewek gue atau nggak. Udah itu aja. Nggak usah pake ribet," potong Alaska.
"Ya elah. Nggak sabaran amat. Aku pikir-pikir dulu ya, Al," jawab Embun.
"Pake pikir-pikir. Kayak orang mau diajak nikah aja. Kelamaan. Ini kan pacaran. Susah amat," sambar Alaska.
Baru kali ini Alaska berbicara dengan cepat dan menyambar-nyambar seperti petir. Biasanya dia sangat santai dan lembut menghadapi Embun.
"Ya kalo mau nunggu jawaban, silahkan. Enggak, juga nggak papa sih. Nggak maksa juga kok," balas Embun santai.
"Ya udah. Gue tunggu. Tapi selama gue nunggu jawaban elo, gue masih bisa dong sama cewek lain." Alaska menyeringai.
"Astaga, dasar PK. Penjahat Kelamin."
"Bukan PK. Sukses itu diawali dari mimpi. Kalo mau mimpi, kudu tidur dulu. Nah gue ajak cewek-cewek itu tidur bersama, untuk merangkai mimpi kami. Begono," alasan si Alaska.
"Itu sih alibi kamu," kata Embun tertawa melihat muslihat Al.
"Tapi aku nggak mau kita tidur bareng, misal aku jadi cewek kamu. Misal loh ini," lanjutnya.
"Kenapa?"
Alaska memandang Embun heran. Bagi dia, jaman sudah modern. Sudah nggak penting lagi yang namanya keperawanan. Seks adalah kebutuhan hidup, bagi pria maupun wanita. Dan hal aneh kalau ada yang menolak untuk itu di era seperti sekarang.
"Aku bukan penganut kehidupan bebas seperti yang kamu jalani sekarang. Kamu baru boleh sentuh aku, after married. Not now."
Embun memberikan penjelasan tentang prinsipnya sebagai wanita beradat Timur.
"Masih ada ya manusia kayak elo."
Alaska tertawa geli. Tapi dia menghargai prinsip Embun dan salut bahwa gadis itu masih tetap bertahan dengan adat kuno.
"Jadi gimana? Sanggup pacaran tanpa seks denganku? Dan itu artinya kamu nggak mengenal seks lagi sampai menikah."
Embun memandang Alaska. Sekarang, gantian pria itu yang terlihat bimbang.
"Terus, gue kudu puasa seks gitu maksud lo? Puasa nahan lapar ma haus mah gue kuat, Mbun. Tapi kalo nahan yang itu, waduh," kata Al sedikit muram.
"Gantian deh, gue yang kudu mikir-mikir lagi," lanjutnya.
Embun tersenyum melihat lelaki itu galau. Setidaknya itu akan menjadi uji coba untuk Al. Kalau memang dia sungguh-sungguh dan serius, ya pasti mau dengan syarat tersebut.
Seseorang bisa dianggap sebagai pria sejati, jika ia mampu menjaga kehormatan wanitanya. Bukankah begitu?
Jadi kalau ada lelaki yang justru menodai atau bahkan merusak kehormatan wanita yang dicintai, maka kejantanannya patut dipertanyakan.
Yang perlu dilakukan seorang pria secara kodrati adalah melindungi dan menjaga wanita. Sementara seorang wanita bertugas merawat dan menyejukkan hati lelaki yang dicintainya. Mungkin terkesan klise, tapi ya begitulah menurut pandangan Embun.
Sampai seusia ini, memang Embun tidak pernah terpikir soal berhubungan seksual dengan seorang pria. Bahkan sekedar kissing pun ia belum melakukannya. Alaska satu-satunya pria yang pernah sedekat ini dengan dia. Walau belum ada rasa cinta.
Embun hanya merasakan kenyamanan bersama lelaki ini. Dia juga seperti memiliki keluarga, tempat bersandar dan ungkapkan rasa lelah. Selama ini, Alaska mampu memainkan peran itu. Tapi apakah ia bisa mencintai Al sebagai seorang wanita pada pria?
Embun takut perasaan ini hanya kekaguman, kedekatan dan kenyamanan sebagai sahabat atau saudara, tidak lebih. Tapi kalau tidak dicoba, bagaimana bisa tahu?
Gadis ini sedang mencoba untuk mencintai Al sebagai kekasih. Dan semoga juga mampu berlanjut sampai ke pernikahan. Kalau bukan dengan Alaska, dengan pria mana lagi?
Embun adalah orang yang sangat tertutup, jarang memiliki teman. Ia menyadari, bahwa kehidupannya sangat berbeda dengan orang umum. Perasaan sedih sekaligus minder, tidak percaya diri, menghalangi dia untuk bergaul. Lebih suka sendiri, atau bersama Alaska.
Ada rasa takut dalam diri Embun untuk membuka diri pada orang lain, terutama pria. Karena itu ia pikir tawaran Alaska untuk menjadi kekasih, atau bahkan mungkin istri, merupakan tawaran yang menarik.