Pernikahan Karin dan Garin berlangsung aneh. Berlangsung singkat. Dihadiri kedua orang tua Widya dan orang tua Garin.
Secara sipil yang dinikahi Garin adalah Karin. Tetapi ketika akad dia menikahi Widya.
Meskipun Pernikahan Garin Anggara dan Karin dilaksanakan secara sederhana dan hanya dihadiri pihak keluarga, beritanya bocor juga.
Seseorang telah menyebarkan foto pernikahan Garin dan Karin di kantor KUA.
Berita itu seperti di sengaja seseorang untuk mencari keuntungan. Bagaimana tidak, Garin Anggara adalah seorang yang terkenal di kampus, pemuda kaya yang menjadi incaran para gadis. Sewaktu dia bertunangan dengan Widya, orang tidak berani mengusik mereka. Widya putri direktur kampus, dan juga salah seorang pemegang saham kampus itu.
"Mereka sebanding, di level yang sama, cantik-tampan, kaya terkenal, berpengaruh". begitulah pandangan sebagian orang. Tetapi Garin Anggara. Tetapi Garin Anggara tetaplah Garin si play boy. Dia suka main-main dengan para mahasiswi baru.
Widya marah besar, sewaktu dia tahu Garin Anggara ketahuan kencan dengan mahasiswi baru. Hal hasil, mahasiswa baru itu di berhentikan kuliah di kampus itu tanpa alasan yang jelas.
Tapi sekarang Garin Anggara menikahi Karin, cewek tomboi tak bisa dandan dan rada aneh. Ini sangat aneh. Garin Anggara mungkin telah buta.
"Dia kena pelet. Ibunya Karin kan dukun!" para mahasiswa bergosip.
"Karin menikah tanpa di hadiri ibunya dan teman-temannya!"
Orang-orang mulai mengejek Karin.
"Dia merampas Garin Anggara dari Widya!"
"Tak ku sangka, di balik sifat tomboinya itu Tersembunyi sifat licik!" orang-orang mencibir..
"Garin Anggara pasti di jebak sama Karin, supaya di nikahin Anggara. Aku melihat Karin pulang di antar Garin Anggara... katanya dia mendadak sakit, ku pikir, sakitnya cuma modus. Ternyata benar!!" kata Zanetti teman se angkatan Karin.
"Pasti dia memang mau menjebak Garin Anggara!" kata temannya.
"Ada yang salah nih! Karin itu kan gak normal, buktinya dia suka sendirian, halu deh! dia juga penyuka sesama jenis!"
Kata salah seorang diantara mereka.
"Hah. Kamu salah. Mana ada lesbi nikah sama cowok normal!" Zanetti mengibaskan tangan.
"Hus...huss gosip... gosip!" Mereka saling mengingatkan.
TIN TIN!
Pandangan para gadis itu tertuju ke tempat parkir.
Garin Anggara dan Karin keluar dari mobil putih milik Karin.
"Mereka datang, hei lihat penampilan Karin... Subhanallah...Karin cantik banget...dia tidak tomboi lagi!" Mereka tambah heboh, Karin dan Garin Anggara jalan bergandengan, mesra.
Mereka membuat iri semua orang.
***
Usai dari kampus membuat heboh pernikahan mereka, pasangan pengantin
Garin Anggara dan Widya ke rumah sakit, menengok tubuh Widya yang di huni Karin.
"Dokter bilang, tubuh itu tidak bisa bertahan lagi. Tubuhmu akan di musnahkan!" kata Garin Anggara.
Widya menangis.
"Tidak...tidak...jangan ambil tubuh ku...biarkan saja dia begitu!" Widya menangis.
"Tapi kamu tidak bisa kembali ke sana!" Garin Anggara melepaskan Widya yang memeluk tubuhnya di ranjang ICU itu.
"Tidak. Tidak. Aku ingin tubuhku!" Widya menangis menjerit.
"Widya...jangan kamu jangan nangis gitu...malu di lihat orang!"
"Aku tak peduli...pokoknya jangan sentuh tubuhku! Biarkan mereka merawatnya, walaupun hanya tinggal tulang saja!" Widya tetap menangis. Garin Anggara jadi khawatir, kalau Widya melompat kembali ke tubuhnya sendiri.
Garin Anggara meminta perawat menyuntik Widya dengan penenang.
Widya pingsan. Garin Anggara membawa Widya pulang menemui ayahnya.
"Sudah ku bilang...Widya tidak boleh melihat jasadnya, itu berbahaya. Ki Joko mengomel.
Rencana hampir saja gagal karena ulah sembrono Garin Anggara.
Ki Joko segera menyiapkan pemujaan kembali. Mengikat Sukma Widya di tubuh Karin, supaya tidak bolak balik ke tubuh asalnya.
***
Berita heboh pernikahan Garin Anggara dan Karin akhirnya sampai ke telinga beberapa orang murid nyonya Ana, ibundanya Karin.
"Masa Karin menikah tanpa restu nyonya Ana? Tidak mungkin! Pasti ada kesalahan!" Zaenab, murid tertua ibu Karin mencoba melakukan kontak kepada gurunya, Nyonya Ana tidak bisa di hubungi. Mereka Lost kontak .
Zaenab mencoba menghubungi Nyonya Ana, berulang kali, tetap gagal.
"Guru tak bisa di ganggu! Kita tunggu hingga beberapa hari lagi, sambil kita menunggu informasi dari yang lainnya!" kata Zaenab kepada rekan-rekannya sesama murid di pengajian jiwa bimbingan nyonya Ana.
***
Sementara itu, pasangan pengantin baru itu kembali ke rumah kos-kosan Karin, mengambil barang-barang milik Karin.
"Laptop ini Isinya tidak banyak, hanya skripsi Karin dan beberapa foto-foto Selfi bersama- 2 bidadari mimpi, julukan teman Karin!"
"Kita musnahkan saja laptop ini!" kata Widya.
"Jangan! Siapa tahu isi laptop ini berguna bagi kita!" kata Garin Anggara.
"Kamu benar!"
Katrina dan Belia datang dari Hongkong langsung ke rumah Karin.
"Halo! kalian kok di sini!" Katrina melambai kan tangan ke Garin Anggara yang sudah duduk santai di ruang tamu sederhana rumah kos Karin.
"Halo...kalian sudah sampai? Mana oleh-oleh-nya!" Garin Anggara bersikap ramah.
"Ini!" Katrina memberikan bag paper ke Garin Anggara.
"Mana Karin?" Bella langsung masuk kamar. Kebiasaan. Dia lupa Karin sudah menikah.
"Ya allah...dia tidur!" Bella kecewa.
"Kami pulang dulu!" Bella dan Katrina pamit.
Garin Anggara lega.
Dia masuk kamar, Widya tertidur sexy.
Garin Anggara jadi bernafsu.
Dia menciumi tubuh Widya rasa Karin.
Widya mendesah. Bukan. Bukan suara Widya. Itu suara Karin.
Garin Anggara semakin bergairah. Pria itu melepas pakaian Widya satu persatu.
Entah mengapa dia menyukai tubuh Widya yang sekarang.
Garin Anggara menciumi bagian bawah itu. Wangi. Wangi yang aneh. Berbeda dengan wangi Widya.
Tangan Garin Anggara bergerilya merasuki wilayah selatan milik Karin. Karin mendesah.
Garin Anggara tak sabar. Segera saja dia bermain di bawah itu.
Garin Anggara tertawa puas, lebih nikmat meniduri Widya saat menjadi Karin. Tubuh Karin lebih nikmat dari pada tubuh Widya.
"Karin ohh. Kau membuat ku tergila-gila!"
Garin Anggara tersenyum, mustahil Karin di sana tidak menikmati permainan cinta mereka.
Garin tak mau melepaskan tubuh Karin. Dia bermain hingga kelelahan.
**"
Sementara itu, di rumah sakit,
Karin di tubuh Widya, kesakitan. . Siang dan malam tubuhnya dikerjai Garin Anggara.
Karin sudah menjadi pengantin Garin Anggara.
Karin merasakan semuanya. Sakit dan nikmat itu. Meski begitu, Karin tidak rela, tubuhnya di rampas paksa dan dijadikan ajang pelampiasan nafsu Garin Anggara dan Widya.
Karin menangis, dia harus bisa kembali, tapi ruhnya terikat di tubuh Widya.
"Aku harus kabur?" Karin mencoba melakukan meditasi mencari bantuan dari sekitarnya. Dia berharap ada seseorang bisa menolongnya.
"Semoga di sini ada murid-murid ibu!" Karin berdoa.
"Oh Tuhan!Aku tidak mau tertidur bersama tubuh yang hampir mati ini!"
Karin menangis.
"Aku tidak boleh putus asa Aku harus kuat! Aku akan menunggu mereka lengah!" Karin terus berdoa.
Dengan sedikit kemampuan yang di milikinya itu, Karin mencoba menghubungi ibunya.
Di bagian barat Indonesia, di atas langit Sumatera. Nyonya Ana sedang sibuk membantu penduduk gaib negeri itu yang sedang berperang.
Dia memutuskan kontak dengan dunia nyata.
***
Di tempat lain, setelah pulang dari kos Karin, Katrina dan Belia pulang ke kos mereka sendiri.
"Aku merasa Karin semakin berbeda. Dia bukan Karin yang dulu!" kata Bella.
"Benar! Aku juga merasa begitu. Karin seperti menjadi orang lain!" Katrina berpikiran yang sama.
"Aku merasa Karin semakin mirip dengan Widya!" kata Katrina.
"Kok kita punya pikiran yang sama?!" kata Belia nyaring.
"Huss... jangan keras-keras... kita harus berhati-hati!"
Katrina mengingatkan Bella,
"Garin Anggara bukan orang sembarangan. Kita harus menyekidiki hal ini. Apa benar Karin berubah jadi Widya demi Garin Anggara?"
"Apa yang harus kita lakukan?" Belia merasa kehilangan.
"Kita ke kosnya aja lagi! Kita kan punya kuncinya!"
"Untuk apa?"
"Ya cari bukti lah!"
'Bukti? Bukti gimana!"
"Aih kita ke sana saja mencari petunjuk atau apa kek gitu ! Atau kita cari bantuan gitu, ibu nya Karin kan orang sakti!' kata Katrina dengan suara pelan. Takut tetangga kos mereka dengar.
Dua orang ini kembali ke rumah kos Karin. Garin Anggara dan Widya sudah tidak ada di sana
"Tak ada apa-apa di situ selain si Jago Merah!"
Malam itu,
Zaenab security rumah sakit kebagian tugas malam.
Di melewati ruang ICU VIP yang sunyi.
Tidak seperti biasanya, malam ini terasa dingin mencekam.
Zainab bukan seorang penakut. Tapi di merasa ada sesuatu yang aneh dan menariknya masuk ke ruang ICU, tempat tubuh Widya di rawat.
Setahunya, Widya wanita yang koma, dia anak seorang direktur kampus ternama di kota ini. Sekarang gadis itu terpapar tak berdaya. Keluarganya yang orang kaya itu sangat jarang menengoknya.
Widya dibiarkan sendiri. Hanya ada 2 perawat yang menjaganya, mereka di bayar khusus menjaga ruangan itu secara bergantian.
Secara medis Widya di nyatakan hidup, tapi tubuh Widya seperti rongga tubuh yang tak berpenghuni.
Malam ini, Zaenab seperti seperti mendengar suara tangisan seorang wanita. di ruangan ICU.
"Siapa di sana?"
"Halo! Ada orang di sana?"
"Aneh!"_
Tidak ada orang di sana.
"Siapa yang menangis tadi?"
Zaenab masuk ke ruangan ICU.
Sepi.
Perawat yang biasa menjaga ruangan ICU itu pergi entah kemana.
"Mungkin perawat itu berasumsi keluarganya saja tak peduli, jg jadi dia tidak perlu memperhatikan pasien itu lagi. Keterlaluan!" Zaenab marah.
"Perawat itu harus dilaporkan. Perawat itu harus di ganti. Tidak bertanggung jawab!" sudah tugas Zaenab melakukan itu. Investigasi!
Zaenab mendekati ruangan itu. Tubuh Widya diam tak bergerak. Tapi di sebelah tubuh itu dia melihat bayangan tembus pandang seperti cahaya, berbentuk seorang wanita. Menangis dengan suara memilukan.
"Kamu siapa? kenapa ada di sini?" tanya Zaenab.
Wanita itu berbalik.
"Kamu bisa melihatku?"
wanita itu tersenyum senang.
Zaenab kaget dia mengenali wanita itu.
"Tentu saja ..tunggu aku seperti mengenalmu! Kamu...kamu... Karin, kan?!" Zaenab tak percaya.
"Kamu mengenalku?" Karin langsung bersemangat.
"Karin Aku Zaenab...kamu ingat aku! Aku Zaenab, murid ibu mu!"
"Kak Zaenab...kak Zaenab....hiks!" Karin berusaha memeluk Zaenab tapi tak bisa. Dia seperti bayangan kabur di ruangan hampa.
"Karin...ada apa denganmu... mengapa kamu bisa begini?!" Zaenab bingung dan prihatin. Karin anak gurunya, bisa terpapar di rumah sakit tanpa Raga.
"Kak Zaenab...nanti dulu ceritanya...bantu aku dulu... bawa aku pergi dari sini...tolong aku... cepatlah!" Karin ketakutan.
Karin meringkuk seperti orang sakit dengan tubuh telanjang. Menangis pilu.
"Karin...Karin kamu kenapa?!" Zainab menutupi Karin dengan selimut gaib. Untunglah dia membawa banyak peralatan gaib.
"Karin... kenapa kamu telanjang? Mana bajumu!"
"Bajuku hilang! Kak Zaenab, tolong beri aku baju...!"
"Sebentar!" Zainab bersemadi mengucapkan lafadz lafadz doa, lalu meniupkan nya ke tubuh Karin.
Tubuh Karin tertutup kain baju putih bersih.
"Pakai ini saja dulu! Nanti ku carikan baju dari pasar gaib untukmu!" Zaenab menutup semedinya.
"Terima kasih, kak!"
Karin duduk bersila, melafadzkan doa. Wajahnya bersinar terang.
****
"Oke Karin... aku akan membawamu pergi dari sini!!" Zaenab mengambil kalung dengan permata delima yang tersembunyi di balik bajunya.
"Karin masuklah ke sini!"
Karin melompat masuk ke batu permata yang di bawa Zaenab.
Zaenab menyembunyikan lagi kalung miliknya itu ke dalam baju.
"Kamu aman di sini!" Kata Zaenab.
"Terima kasih kak!" Karin merasa tenang sekarang. Ada tempat untuknya bersembunyi untuk sementara waktu.
Karin masuk kamar hotelnya, permata delima ini ibarat hotel bagi makhluk tanpa raga.
.
"Karin maafkan aku. Aku belum punya tubuh untukmu!" kata Zaenab ke Karin.
"Tidak apa-apa kak! Tempat ini lebih baik!"
Jawab Karin dengan wajah cerah. Lebih baik tinggal di permata delima ini dari ada tinggal di Widya yang hampir mati itu.
Tiba-tiba Karin menggigil. Dia menggelepar seperti orang sakit.
"Apa yang terjadi!" tanya Zaenab.
"Garin menodai tubuhku!" jawab Karin pilu.
"Karin... kasihan sekali kamu!" Zaenab marah untuk Karin. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak bisa melawan Ki Joko, ayahnya Garin Anggara.
"Karin... kamu ku simpan di mobilku dulu ya...kamu bisa istirahat dulu di sini!"
'Terima kasih kak!" Karin tertidur.
Zainab menuju ruang keamanan, menghapus rekaman CCTV, kalau dirinya pernah masuk ruangan ICU VIP itu.
***
Paginya,
Zaenab bebas tugas.
Zaenab teringat kembali dengan Karin.
Karin yang bersembunyi dalam batu permata delima miliknya. Gadis itu terbangun ketika mendengar Zaenab memanggilnya.
"Karin... kamu sudah bangun!" panggil Zaenab.
"Sudah kak!" jawab Karin.
"Kita pulang dulu!"
"Pulang ke mana kak?"
"Ya ke rumahku lah!" Zaenab tertawa.
Sesampainya di rumah Zaenab.
"Karin.. kamu bisa keluar sekarang... kamu aman!"
"Tidak kak aku di sini saja!" Karin masih Ketakutan.
"Baiklah terserah kamu saja!" jawab Zaenab. "Katin... Ceritakan yang terjadi padamu?"
"Mereka menculik ragaku... Ragaku di pakai jiwa lain?" kata Karin.
"Jiwa Siapa? Widya?" Tebak Zaenab.
"Ya! Widya perlu tubuh sehat dan normal!" kata Karin menceritakan kronologis kenapa dia bisa berada di tubuh Widya yang cacat dan lumpuh tak berdaya.
"Jadi badanmu di pinjam Widya?"
"Bukan di pinjam tapi di rampok! Mereka merampas badanku, dan membuang jiwaku!!" Karin bercerita penuh kesedihan.
***
Zaenab bersemedi,
"Karin... aku belum bisa kontak dengan ibu mu... sepertinya guru sedang bertempur di medan perang... kita bisa mengganggunya!" kata Zaenab frustasi. Dia kasihan dengan Karin tinggal di permata Delima, berkelana tanpa raga.
"Kak Zaenab bisa kah kamu membuka rantai yang membelenggu jiwaku?" tanya Karin penuh harap.
"Maaf Karin ilmuku belum sampai ke sana!" Kata Zaenab penuh penyesalan.
"Tak apa kak, aku mengerti!"
Karin teringat seseorang yang bisa membantunya,
"Kak Zaenab...bisakah kakak membawaku ke Turki?"
"Ke Turki? Jauh sekali...Ada apa di sana?!" Zaenab bingung.
"Nanti ku ceritakan... sekarang...tolong antar saya ke rumah ibu ku!"
"Rumah ibumu..."
"Ya Kak! Kita ke rumah ibu ku. Aku bisa mengambil keperluan kita selama di Turki!" kata Karin meyakinkan Zaenab.
"Aku tak bisa masuk ke rumah ibu mu. Rumah itu terkunci secara gaib!
"Tenang saja kak...aku punya kuncinya!" jawab Karin.
Mereka pergi ke rumah ibu Karin.
"Kak kuncinya ada di bawah pot bunga matahari!" kata Karin.
"Bunga matahari...bunga matahari...!" Zaenab bergerak mencari bunga matahari yang di maksud. Bunga itu sudah mati tak terurus.
"Oke sudah ku temukan!" Zaenab mengangkat kunci rumah itu. Kunci itu berupa batu hitam seukuran telapak tangan.
"Letakkan tangan kakak di atas batu itu!"
Zaenab menurut. Cahaya putih di sekitar rumah ibu Karin seperti air terjun membuka celah yang hanya bisa di tempuh sebelah badan. Zaenab memiringkan tubuhnya. Masuk.
Rumah itu tidak terkunci. Pintunya hanya di tutup rapat.
"Silahkan masuk, kak!" kata Karin.
Karin keluar dari permata delima. Tubuhnya seperti hologram tembus pandang.
"Kak... ambillah semua uang itu! Kakak beli tiket ke Turki!"
"Hah! Banyak sekali!"
Zaenab tidak pernah punya uang banyak. Dia kerja sekedar cukup untuk keperluannya sehari-hari. Uangnya dihabiskan untuk membeli benda-benda gaib.
"Karin... kenapa kita harus ke Turki?" tanya Zaenab heran.
"Kak... hanya ratu Mustika yang bisa membebaskan tali pengikat Sukma di leherku!" kata Karin dengan tatapan jauh. Dia mendengar dari ibunya,
"Siapa Ratu Mustika?" tanya Zaenab heran.
Vous aimerez peut-être aussi
Commentaire de paragraphe
La fonction de commentaire de paragraphe est maintenant disponible sur le Web ! Déplacez la souris sur n’importe quel paragraphe et cliquez sur l’icône pour ajouter votre commentaire.
De plus, vous pouvez toujours l’activer/désactiver dans les paramètres.
OK