"Tapi di HP-ku gak ada notif pesan masuk, Mbak.. apa karena semalam aku login dari PC ya?"
"Yo wes, intinya kamu ikut apa gak?"
"Mm. Aku terlanjur ada janji."
"Sebentar aja, Don. Seenggaknya kamu masuk 30 menit aja gak masalah kok."
"Yah, aku usahakan deh, Mbak."
"Ayo, makan siang dulu sekarang!"
Mika tercekat. Ingin rasanya menendang perempuan yang sok akrab dengan kekasihnya. Apa dia tidak melihat atau pura-pura buta, ada Mika berdiri di samping Doni. Coba perhatikan dengan seksama, tangan siapa yang digandeng oleh Doni. Bisa-bisanya mengajak pacar orang untuk makan siang, tanpa sungkan pula.
"Duluan aja, Mbak Ir. Aku nyusul."
Oh, Mas Doni memanggilnya dengan sebutan Mbak. Berarti dia lebih tua atau hanya sekedar ingin menghormati perempuan itu?
Chapter ini didedikasikan utk Almarhum Radityo (Bom-Bom). Terima kasih utk hadiah jam tangannya pada Doni. Terima kasih telah menemani Mika saat presentasi di auditorium kampus Doni, karena Doni tak dpt hadir saat itu. Terima kasih telah rela kehujanan menjenguk Mika di rumah sakit. Terima kasih telah merayakan malam tahun baru bersama. Terima kasih utk film-film bajakannya. Terima kasih sudah menjadi teman baik bagi Doni dan Mika.