Descargar la aplicación
2.92% Rahim Pengganti / Chapter 6: Surat Perjanjian

Capítulo 6: Surat Perjanjian

Carissa sudah tidak tahu apa yang saat ini ada di dalam pikirannya. Yang dirinya tahu adalah menyelematkan kehidupan orang orang yang berada di panti asuhan, seperti saat ini dia sedang menunggu Della.

Akhirnya wanita itu menyetujui apa yang ditawarkan Della sebagai seorang yang mengandung benih dari suaminya, lalu dengan teganya menukar anaknya itu dengan uang.

Membayangkannya saja Carissa sudah sesak apa lagi saat harus menjalani semuanya, rasanya Carissa tidak akan sanggup melakukan hal seperti itu.

"Sudah lama?" tanya Della dengan sikap angkuhnya. Carissa tidak kaget lagi melihat sikap sang sahabat, ah mungkin sudah tidak pantas lagi dia sebut sahabat. Karena kemarin sungguh Carissa benar benar akhirnya tahu bagaimana sikap Della.

"Baru." Jawaban singkat dari Carissa hanya dianggukin oleh Della.

"Gue gak mau banyak omong sama loe, gue cuma mau kasih ini aja. Loe buka buka setelah di rumah. Yang intinya gue cuma butuh loe untuk mengandung anak dari Mas Bian secara sah. Jadi kalian bakalan menikah, di dalam surat itu sudah tertera jangka waktunya. Jika selama waktu tersebut loe gak bisa kasih Mas Bian anak, berarti loe harus siap bercerai dengannya."

Carissa hanya mendengarkan hal tersebut dengan seksama, tangannya masih memegang amplop berwarna cokelat itu, saat ini Carissa benar benar tidak tahu apa kah tindakannya saat ini sudah benar atau tidak.

"Setelah loe tanda tangan surat tersebut, gue bisa pastikan bahwa panti asuhan akan aman." Della segera beranjak dari sana. Wanita itu menampilkan senyuman liciknya saat pergi meninggalkan Carissa di sana sendirian.

***

Di dalam rumah ini lah air mata Carissa tak henti hentinya mengalir, setiap kata yang di baca dalam surat perjanjian itu sangat sangat tidak sesuai dengan prinsip yang ada di dalam dirinya.

SURAT PERJANJIAN

Pihak Pertama : Della Syaputri.

Pihak Kedua : Carissa Ayudia Putri

Surat Perjanjian ini di buat dalam keadaan sadar dan tanpa pengaruh apa pun dari kedua buah pihak yang sudah tercantum diatas.

Dengan ini Pihak kedua wajib menaati semua aturan yang sudah di buat oleh pihak pertama sesuai kesepakatan sebelumnya.

Ada pun rincian perjanjian sebagai berikut :

1. Pihak Kedua harus menikah secara diam diam dengan suara pihak Pertama.

2. Pihak kedua harus melahirkan seorang anak hasil dari pernikahan tersebut.

3. Selama menjadi Istri kedua dari suami pihak pertama, yang bersangkutan tidak boleh jatuh cinta dengan suami pihak pertama.

4. Setelah menikah, pihak kedua akan tinggal di rumah yang sudah di siapkan oleh pihak pertama.

5. Pihak kedua harus hamil paling lama selama 2 tahun setelah pernikahan.

6. Jika selama waktu yang di tentukan pihak kedua tidak kunjung hamil, maka surat perjanjian ini dibatalkan.

7. Setelah pihak kedua melahirkan, masa waktu bersama sang anak hanya 1 bulan.

8. Pihak kedua tidak boleh, memiliki foto, atau kenangan apa pun terhadap bayi yang akan dikandung.

9. Seluruh aturan ini akan berubah jika pihak pertama menghendakinya.

Demikian surat ini disampaikan tanpa ada unsur paksaan sendikit pun.

Air mata itu semakin deras mengalir, sungguh alangkah tega Della membuat hal seperti ini. Dia yang mengandung, tapi selembar foto pun tidak bisa ia miliki untuk dikenang.

"Apa aku harus menerima ini semua?" gumamnya dalam hati, Carissa bingung takut dan saat ini tidak tahu harus berbuat seperti apa. Carissa hanya ingin Panti Asuhan dimana tempat dia hidup selama ini bak baik saja.

Tapi wanita itu juga tidak mungkin melakukan hal yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Dering telpon Carissa berbunyi di sana tertera sebuah nama yang membuat Carissa melorotkan matanya. Bagaimana tidak laki laki itu kenapa bisa menghubungi, dengan perasaan ragu Carissa mengangkat telpon tersebut.

"Hallo."

"Besok temui saya di Cafe Kenangan Jam 7 Malam, ada sesuatu yang harus saya bicarakan tidak boleh telat. Oh satu lagi, jangan ada yang tahu tentang hal ini."

Tut

Panggilan tersebut, langsung diputuskan begitu saja. Belum sempat Carissa berkomentar sedikit pun, orang di sebelah sana sudah langsung mematikannya.

"Huuu, kebiasaan."

Carissa pun segera pergi ke dapur perut sudah berbunyi, karena memikirkan banyak hal membuat wanita itu melupakan bahwa dirinya belum makan siang bahkan ini sudah mau malam. Dengan lincahnya Carissa membuat nasi goreng sederhana, hanya itu yang saat ini bisa dirinya masak.

"Selamat makan," gumamnya pada dirinya sendiri.

Sederhana tapi Carissa selalu bersyukur akan semuanya, dia bahagia hidup seperti ini andai Carissa tahu siapa orang tuanya, mungkin hidupnya akan lebih baik.

Tapi manusia hanya mampu berandai andai saja, hanya Tuhan lah yang sudah merencanakan semuanya.

***

Keesokan harinya Della sudah menelpon Carissa menanyakan mengenai kapan dia bisa mengambil surat perjanjian itu, tapi Carissa belum menjawab kapan wanita ini tahu apa alasan Bian mengajaknya bertemu hari ini.

Laki laki yang menelpon Carissa kembali adalah Fabian, suami dari Della dan mantan Boss di kantor Carissa. Entah sudah pantas di bilang mantan Boss atau belum, karena hingga detik ini Carissa masih tercatat sebagai karyawan di sana.

Setelah urusannya di toko bunga selesai, Carissa pun kembali ke kost nya untuk membersihkan diri serta bersiap untuk pergi ketempat dimana Bian ingin bertemu.

Tak membutuhkan waktu lama Carissa sudah siap dengan celana jins serta kaus berwarna hitam membuat siapa saja akan terpesona tampilan Carissa malam ini.

"Udah pas ini, saat pergi."

Carissa pergi menggunakan bus seperti biasanya, lebih aman menurutnya tapi sebenarnya lebih hemat.

Selama diperjalanan Carissa selalu mendengarkan musik yang sengaja ia pasang di hp nya, untuk menemani perjalanan indah. Bersenandung ria adalah kebiasaan Carissa, lagu yang menjadi favorit nya sejak lagu tersebut rilis.

Melukis Senja by Budi Doremi

Aku mengerti

Perjalanan hidup yang kini kau lalui

Ku berharap

Meski berat, kau tak merasa sendiri

Kau telah berjuang

Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah

Biar ku menemanimu

Membasuh lelahmu

Izinkan kulukis senja

Mengukir namamu di sana

Mendengar kamu bercerita

Menangis, tertawa

Biar kulukis malam

Bawa kamu bintang-bintang

'Tuk temanimu yang terluka

Hingga kau bahagia

Aku di sini

Walau letih, coba lagi, jangan berhenti

Ku berharap

Meski berat, kau tak merasa sendiri

Kau telah berjuang

Menaklukkan hari-harimu yang tak indah

Biar ku menemanimu

Membasuh lelahmu

Izinkan kulukis senja

Mengukir namamu di sana

Mendengar kamu bercerita

Menangis, tertawa

***

Carissa sudah sampai ditempat yang sudah mereka sepakati melirik jam yang ada ditangannya masih ada 15 menit lagi ternyata, setidaknya Carissa tidak telat pikirnya seperti itu.

"Maaf Mbak atas nama siapa?" tanya seorang pelayan tersebut.

"Carissa," jawabnya sedikit ragu, karena jujur Carissa tidak tahu apakah benar atau salah.

"Baik silakan saya antar." Carissa hanya mengikuti pelayan tersebut mengajak nya ketempat yang sudah disiapkan.

Sampailah Carissa di ruangan tersebut, dan saat masuk pemandangan pertama yang Carissa lihat ada dua orang wanita ya saat di rumah sakit bertemu dengan nya.

"Sudah datang Nak? Masuk Mama sudah menunggu kamu," ucap wanita itu.

###

Hai terima kasih sudah mau membaca cerita ini, silakan tinggalkan ulasannya ya. Yang mau berteman dengan aku di IG boleh

@ochagumay24 disana biasanya aku akan kasih cuplikan mengenai part selanjutnya.

Terima kasih.


Capítulo 7: Pertemuan Keluarga

"Maaf Mbak atas nama siapa?" tanya seorang pelayan tersebut.

"Carissa," jawabnya sedikit ragu, karena jujur Carissa tidak tahu apakah benar atau salah.

"Baik silakan saya antar." Carissa hanya mengikuti pelayan tersebut mengajak nya ketempat yang sudah disiapkan.

Sampailah Carissa di ruangan tersebut, dan saat masuk pemandangan pertama yang Carissa lihat ada dua orang wanita ya saat di rumah sakit bertemu dengan nya.

"Sudah datang Nak? Masuk Mama sudah menunggu kamu," ucap wanita itu.

Carissa syok akan hal yang ia lihat didepan matanya saat ini, melihat kedua orang tersebut tersenyum membuat Carissa semakin tidak enak. Sepertinya dirinya harus pergi, tidak mungkin mantan Boss itu mengajaknya ke sini. Ini pasti salah pikir Carissa.

Saat Carissa akan beranjak dari sana, seseorang yang sangat dia kenal baru saja datang.

"Maaf terlambat," ucapnya lalu duduk di samping Carissa. Wanita yang tadi menyambut Carissa tersenyum bahagia.

"Tidak Sayang, kan makan malamnya belum dimulai."

"Mbak namanya Carissa kan? Aku panggil Mbak Caca boleh gak?" tanya wanita satu lagi yang masih terlihat muda umurnya pasti tidak jauh dari Carissa.

"Iya boleh Mbak, terserah mbaknya aja," jawab Carissa dengan nada gugup.

"Panggil Siska aja Mbak, aku kan adiknya Mas Bian. Berarti kan adiknya Mbak juga," jelasnya. Carissa hanya tersenyum kaku, apa apaan ini dirinya tak mengerti dengan situasi seperti ini, ada apa sebenarnya yang akan terjadi.

Semua hanya ada kesunyian di diri Carissa, dia hanya diam tanpa berkata sedikit kata pun. Yang terdengar hanya candaan Siska dan Ibu serta Bian Boss nya itu. Malam ini Bian memang terlihat berbeda, entah lah tapi saat ini Carissa tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan kondisi yang sedang terjadi.

***

Setelah selesai makan malam, Bian mengajak Carissa pergi dari tempat tersebut. Mama Bian awalnya tidak memberikan izin, tapi berkat pengertian anaknya itu akhirnya diizinkan.

Saat ini Bian dan Carissa sedang berada di balkon restoran itu, sudah hampir 10 menit mereka berdua di sana tapi tidak ada perbincangan serius.

"Saya tahu perjanjian apa yang kamu dan Della buat," ucap Bian. Carissa yang fokus ke depan menoleh kearah Bian.

Ternyata keduanya saling menatap satu dengan lainnya, Carissa tidak tahu dengan arti tatapan yang diberikan Bian kepadanya.

"Ayo kita mulai permainan ini," ucapnya lagi. Carissa tidak mengerti dengan maksud yang baru saja Bian katakan permainan apa. Apa maksud dari semua yang laki laki itu katakan.

"Kamu pasti bingung kan, jadi seperti ini. Kamu boleh menerima surat perjanjian yang diberikan oleh Della. Kita lakukan semua yang ada di sana, saya akan menikahi kamu demi seorang anak." Bian menjeda ucapannya dan terdengar helaan napas yang panjang.

"Lebih tepatnya saya melakukan ini semua bukan karena permintaan Della, tapi demi kesehatan Mama saya. Saya ini di detik detik terakhir nya, dia sudah bisa merasakan hadirnya seorang cucu. Bukan saya ingin melangkahi takdir tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi sebelumnya," ucap Bian.

"Kamu tenang saja, bukan hanya Della yang akan menjamin kelangsungan semua orang yang ada di panti asuhan. Tapi juga saya, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya kepada mereka."

Carissa hanya bisa diam, tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan yang saat ini Carissa tahu hanya bisa mendengar kan semuanya.

"Carissa saya minta kepada kamu untuk menerima permintaan Mama saya, hanya kamu orangnya."

"Kenapa kalian berdua tidak melakukan program," tanya Carissa. Entah apa yang saat ini di pikirkan oleh Carissa sehingga perkataan ini bisa keluar dari mulutnya.

"Kalau kamu tahu semuanya sudah saya lakukan tapi sepertinya Della memang tidak bisa memberikan saya anak. Saya juga tidak bisa menceraikannya, karena dia adalah orang yang sangat saya cintai," ucap Bian. Laki laki itu tanpa tahu jika ada hati yang sakit mendengar ucapan yang baru saja di lontarkan.

Carissa hanya bisa menghela napasnya panjang, lalu menatap kearah depan. Memejamkan matanya, pilihan yang sulit tali semua akan dirinya lakukan demi anak anak panti.

"Saya bersedia," ucap Carissa. Bian yang mendengar ucapan itu langsung menoleh kearah Carissa senyum yang tak pernah Carissa lihat, saat ini sedang terbit di bibir Bian.

Laki laki itu tersenyum, membuat sudut hati Carissa bergetar. Wanita itu tidak tahu apa yang saat ini terjadi dengan dirinya, hanya dengan melihat senyum itu Carissa sudah tidak nyaman.

***

Setelah perbincangan singkat itu, Bian langsung memberitahukan hal itu kepada sang Mama. Terlihat jelas di sana Mama Ian sangat bahagia mengetahui hal tersebut, wanita paruh baya itu memeluk erat Carissa.

Tak lama mereka pun beranjak untuk pulang, Siska dan Mama Bian sudah lebih dulu pergi dari tempat itu. Lalu Bian mengusulkan untuk mengantar Carissa tapi wanita itu menolak. .

"Biar saya antar," ujarnya.

"Tidak usah Pak saya bisa pulang sendiri."

Carissa menolak dengan lembut, bukan karena apa dirinya hanya ingin membuat jantungnya stabil saja. Berdekatan dengan Bian membuat pacuan jantung Carissa tidak menentu.

"Tidak ada penolakan." Jawab Bian, keduanya lun berjalan menuju tempat parkir, Carissa hanya bisa pasrah mau bagaimana lagi dia akhirnya menurut.

Selama diperjalanan tidak ada pembicaraan diantara mereka, mobil itu hanya dihiasi dengan lagu "Kasih Putih"

Carissa sangat ingat betul, ini merupakan lagu favorit Bian dari SMA. Dengan nada yang nyaris tak terdengar, Carissa ikut bernyanyi bersenandung ria.

Terdalam yang pernah kurasa

Hasratku hanyalah untukmu

Terukir manis dalam relungku

Jiwamu jiwaku menyatu

Biarkanlah kurasakan

Hangatnya sentuhan kasihmu

Bawa daku penuhiku

Berilah diriku kasih putih

Di hatiku (kudatang padamu kekasihku)

Kucurahkan isi jiwaku

Hanyutkan daku dalam air hidup

Kau bawa selamanya diriku

Biarkanlah kurasakan

Hangatnya sentuhan kasihmu

Bawa daku penuhiku

Berilah diriku kasih putih

Di hatiku (bawa daku kekasihku taburiku dengan cinta oh)

Biarkanlah kurasakan

Hangatnya sentuhan kasihmu

Bawa daku penuhiku

Berilah diriku kasihmu

Biarkanlah kurasakan

Hangatnya sentuhan kasihmu

Bawa daku penuhiku

Berilah diriku kasihmu

***

Hingga lagu itu berakhir tepat Carissa sampai di depan rumahnya. Bian segera mematikan mesin mobil tersebut, lalu Carissa mulai beranjak dari sana. Tapi ketika Carissa akan membuka pintu mobil, lengannya di tahan oleh Bian.

Carissa menoleh kearah Bian, laki laki hanya menatap kearahnya tanpa berkata sedikit pun.

"Ada apa Pak?" tanya Carissa.

"Mulai besok kamu kembali bekerja sebagai sekretaris saya," ucap Bian dengan nada dinginnya.

"Terima kasih."

Carissa pun segera turun dari mobil tersebut, saat ini jantung Carissa seolah akan loncat. Sentuhan tangan yang diberikan Bian tadi mampu membuatnya seperti tersengat aliran listrik. Carissa tidak tahu jika hal yang sama juga di rasakan oleh Bian.

Laki laki itu menghembuskan nafasnya berulang kali, menetralkan detak jantungnya. Bian bingung dengan perasaan apa yang saat ini sedang ia alami.

##

Hallo bagaiman dengan chapter ini semoga masih suka ya. Selamat membaca. Love you so much


Load failed, please RETRY

Regalos

Regalo -- Regalo recibido

    Estado de energía semanal

    Desbloqueo caps por lotes

    Tabla de contenidos

    Opciones de visualización

    Fondo

    Fuente

    Tamaño

    Gestión de comentarios de capítulos

    Escribe una reseña Estado de lectura: C6
    No se puede publicar. Por favor, inténtelo de nuevo
    • Calidad de escritura
    • Estabilidad de las actualizaciones
    • Desarrollo de la Historia
    • Diseño de Personajes
    • Antecedentes del mundo

    La puntuación total 0.0

    ¡Reseña publicada con éxito! Leer más reseñas
    Votar con Piedra de Poder
    Rank 200+ Clasificación PS
    Stone 0 Piedra de Poder
    Denunciar contenido inapropiado
    sugerencia de error

    Reportar abuso

    Comentarios de párrafo

    Iniciar sesión

    tip Comentario de párrafo

    ¡La función de comentarios de párrafo ya está en la Web! Mueva el mouse sobre cualquier párrafo y haga clic en el icono para agregar su comentario.

    Además, siempre puedes desactivarlo en Ajustes.

    ENTIENDO