App herunterladen
82.56% Memory Of Love / Chapter 90: Kandang Kuda

Kapitel 90: Kandang Kuda

Dalam perjalanan pulang pak Baroto dan anak-anaknya merasa sangat bahagia, dan orang yang paling bahagia adalah Edwin, karena ia pulang membawa wanita impiannya.

"Sayang aku perhatiin kamu dari tadi diam.terus" Edwin bertanya karena melihat Bila yang tak berkata apapun sejak mereka mulai perjalanannya "apa kamu masih merasa ini hanya mimpi?".

Edwin berbisik di telinga Bila, sambil mengelus kepalanya dengan lembut "santai saja, nanti aku kasih kamu kejutan".

Ucapan Edwin terdengar bukan seperti seorang yang sedangenenangkan, uacapan itu terasa seperti sebuah peringatan pada Bila untuk waspada.

"Ya kak" jawab Bila singkat sambil mencoba menjaga jarak dengan Edwin "jangan.dekat-dekat malu".

"Malu, kita kan suami istri kenapa harus malu".

Kedua kakak Edwin hanya tersenyum ketika melihat pasangan pengantin baru yang duduk di depan mereka sedang berdebat.

"Sabar Win....sebentar lagi sampai kok" ledek Erwin.

Muka Bila memerah mendengar ledekan Erwin ia segera menjauhi Edwin dengan duduk menempel di pintu mobil.

Sedangkan Edwin tersenyum jahil sambil mencolek pinggang Bila membuat hati Bila semakin berdetak tak beraturan.

Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Edwin, ketika Bila masuk kedua istri kakak ipar dan anak-anak mereka langsung menyambutnya dengan hangat.

Setelah berkenalan dan berbincang-bincang cukup lama pukul 21.00 mereka semua kembali pulang.

Dalam rumah itu tinggal sepasang pengantin dadakan dan sang ayah yang jahil.

"Wes Win, sudah malam papa capek, mau tidur" pak Baroto berdiri untuk pergi ke kamarnya "Win sana ajak anak wedok papa istirahat".

"Ya pa" jawab Edwin.

"Win ojo grusa grusu, pelan-pelan saja hahaha...." tawa pak Baroto terdengar aneh "Nisa kalau suamimu kasar jambak wae".

"..." Bila hanya tersenyum tak tahu harus berkata apa.

Setelah pak Baroto masuk kamar, Edwin juga langsung mengajak Bila ke kamarnya di lantai atas.

Bila mengikuti Edwin yang membawakan barang-barangnya dengan patuh menuju kamar pengantin yang entah seperti apa keadaannya.

Mata Bila terbelalak melihat keadaan kamar Edwin yang berantakan, kamar yang sebenarnya luas itu terluhat amburadul dengan barang-barang yang berserakan.

"Kak ini kamar apa kandang kuda?" tanya Bila kesal "kakak jorok banget

Edwin juga terkejut melihat keadaan kamarnya ia segera memberi alasan " ini pasti kerjaan keponakan-keponakanku Bil, sebentar kamu duduk di depan tivi dulu aku rapiin ya".

"Ga usah, kita rapikan bersama" jawab Bila kesal.

Edwin tersenyum mengetahui betapa pengertiannya Bila.

Sepuluh menit kemudian kamar itu sudah terlihat kembali rapi, kini tinggal wajah lelah dan ngantuk Bila.

"Kak aku mau mandi, kamar mandinya dimana?" Edwin bertanya.

"Mandi bareng yuk, aku mandiin" Edwin menjawab dengan semangat.

"Ish....." Bila memelototi Edwin karena kesal.

"Malu apa mau".

Bila meninggalkan Edwin untuk bergegas membersihkan diri, sementara Edwin begitu bahagianya melihat tingkah malu Bila.

Bila keluar dengan memakai baju tidur, ia juga mengenakan krudung instan.

Edwin mendekati Bila yang tampak ragu-ragu, ia menggenggam pendak Bila mencoba menengkan istrinya.

Sementara Bila semakin tak karuhan dengan perlakuan Edwin.

"Bila....sekarang kamu sudah sah jadi istriku, jadi kamu ga usah sungkan" Edwin berkata dengan lembut.

"Eh.....iya kak" Bila tertunduk malu.

Dengan lembut Edwin mengambil handuk yang Bila bawa kemudian mengantungnya, kemudian ia menggandeng tangan Bila untuk duduk diranjangnya.

"Bila mulai sekarang ini kamar kamu" Edwin beekata sembari mendudukan Bila.

"Rasanya aneh kak, ini terlalu tiba-tiba aku....

belum"Bila terbata-bata berkata pada Edwin.

"Ya Bila aku tahu, sekarang kamu tenang aja aku mandi dulu".

Jam sudah menunjukan pukul 21.30 Bila masih duduk ditepi ranjang ia begitu bingung harus berbuat apa.

Sedang Edein dengan muka tengilnya medekati Bila dengan penampilan yang fresh dan wangi.

Edwin duduk disebelah Bila kemudian ia memegang tangan Bila, setelah itu ia kecup kening Bila yang mukanya segera memerah.

"Bila mulai hari ini kamu adalah milikku, aku berhak melihatmu seutuhnya".

"Maksut kakak?" tanya Bila heran.

"Rambut kamu, aku juga ingin melihat kamu tanpa jilbap, aku masih ingat waktu kita tidur di mes, kamu cantik banget".

Edwin mulai membuka kerudung Bila, sementara Bila hanya menurut apa yang Edwin lakukan, setelah menaruh krudung itu Edwin dengan lembut membelai rambut Bila.

Bila yang baru pertama kali merasakan sentuhan dari laki-laki merasa ada sesuatu yang aneh, perasaan takut dan gugup ada juga sesuatu yang menggebu dan sulit untuk.diungkapkan, terlebih ketika Edwin mulai mencium pipinya bertubi-tubi.

Mulai dari pipi, kening, hidung dan dagu tak ada yang terlewat dari bibir Edwin membuat Bila semakin tak bisa berkata-kata, bahkan ia hanya mampu menuruti ketika Bibir Edwin menyentuh Bibirnya dengan lembut.

Yah.....ini adalah sentuhan dan ciuman pertama bagi Bila, dan untuk beberapa saat Bila merasa sangat menikmati buaian indahnya pernikahan.

Edwin melepaskan ciuman yang semakin panas itu ketika ia merasa napas Bila semakin tak beraturan.

"Bila apa aku bisa melakukannya sekarang?".

"Maksut kakak?"

"Ini adalah malam pertama kita, apa aku bisa mengerjakan kewajibanku saat ini?".

Bila tahu benar apa yang diinginkan Edwin, tapi ia merasa belum siap jika harus saat ini juga.

"Kak....aku takut".

"Aku akan melakukannya dengan hati-hati" Edwin mencoba menenangkan Bila.

"Aku takut hamil" jawab polos Bila.

"Takut hamil, kan kamu punya suami kenapa takut?" jawab Edwin dengan heran.

"Tapi kita belum menikah secara sah kak, nanti kalau aku hamil dikiranya aku hamil diluar nikah lagi" Bila memberi penjelasan.

"Jadi aku masih harus bersabar lagi nih?".

"Kalau kakak ikhlas, ini terlalu mendadak kak".

"Ok Bil, aku akan menunggu kamu siap, tapi kalau yang lain boleh ya?"

Bila tak menjawab, ia hanya tersipu malu kemudian mengangguk pelan.

Melihat perewtujuan Bila, dengan sigap Edwin segera memeluknya kemudian merebahkan tubuh mereka ke atas kasur.

Setelah beberapa saat merekapun ahirnya terlelap dalam buaian malam yang begitu indah, dan rasa syukur katena Tuhan kini telah menyatukan mereka.


AUTORENGEDANKEN
Bubu_Zaza11 Bubu_Zaza11

ckckckck.........

Kapitel 91: Sarapan Kiss

Jam menunjukan pukul 04.00 ketika Edwin terbangun senyumnya mengembang saat melihat Bila yang masih tertidur dalam pelukannya.

Bukan membangunkan istrinya ia justru memeluknya lebih erat kemudian mencium pipi Bila lalu 1!1kembali memejamkan matanya.

Suara adzah Subuh berkumandang giliran Bila yang terbangun, untuk sejenak ia merasa bingung ketika ia sadar berada dalam pelukan seseorang.

Sesaat kemudian semua ingatan tentang indahnya kemarin kembali dalam otaknya, iapun tersenyum karena ini adalah awal dari harinya bersama Edwin.

Bila mencoba melepaskan pelukan Edwin tapi pelukan suaminya terlalu erat.

"Kak lepas...aku mau bangun" pinta Bila

"Udah....bangun nanti aja, aku masih mau memeluk kamu" Edwin enggan melepas pelukannya.

"Ih.....kakak udah bangun ya, lepasin dong aku mau mandi dulu".

"Ada syaratnya" pinta Edwin yang masih memejamkan mata sambil memanyunkan bibirnya.

"Ih genit" Bila segera mencium bibir Edwin.

Bukannya melepaskan Bila Edwin justru mendekap istrinya dan menyerangnya dengan ciuman yang penuh gairah, sehingga Bila merasa terjebak.

Bila melepaskan ciuman itu "Dasar jahil, lepasin nanti kesiangan malu".

"Ya....." jawab Edwin "asik ya punya istri pagi-pagi sudah sarapan kiss, dari istriku yang genit ini".

"Kakak....." wajah Bila tiba-tiba memerah karena perkataan Edwin, ia mencubit pinggang Edwin kemudian segera bergegas ke kamar mandi.

Pukul enam pagi Bila sudah terlihat sibuk di dapur, ia sedang memasak sarapan pagi untuk suami dan mertuanya.

Pak Baroto yang baru saja pulang dari olahraga pagi ketika mencium harum masakan segera menuju dapur.

"Wah.....anak papa sedang masak, sudah mateng belum nak, papa jadi lapar nih". sapa pak Baroto mengagetkan Bila.

"Sebentar lagi pa, ini tinggal goreng telur sama bikin sambel doang" jawab Bila ramah "papa mau Bila buatin minum?".

"Boleh...kalau pagi biasanya papa minum jahe anget buatan simbok, kamu bisa buat wedang jahe".

"Bisa kok, papa tunggu dulu" jawab Bila sambil menuangkan air putih hangat yang segera ia sodorkan pada pak Baroto "kalau papa haus minum air putih dulu"

"Ya...ya...ya, makasih ya nak, papa tunggu diteras kalau sudah matang".

"Siap pa, nanti Bila panggil".

Setelah pak Baroto pergi giliran Edwin yang datang untuk merecoki Bila, ia memeluk Bila dari belakang lalu mencium pipinya, Bila terkejut akan tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa, jadi ia membiarkan suaminya yang manja itu memeluknya.

"Sayang.....kamu masak apa?"

"Lihat aja sendiri tuh di meja samping" jawab Bila dengan cuek.

"Dosa lho sama suaminya jutek".

"Yang dosa tuh kakak, istri lagi nyiapin makanan buat mertua direcokin".

"Win.....ambilkan kaca mata papa Win!" suara pak Baroto meminta bantuan anaknya.

"Ya....pa" jawab Edwin yang kaget karena tiba-tiba papanya muncul didepan mereka.

Bila jadi salah tingkah karena kejadian tersebut, ia segera melepas tangan Edwin.

"Maaf ya....papa kira Nisa sendiri, papa mau ambil minum" pak Baroto juga ikut sungkan karena merasa mengganggu mereka.

"Payah papa mah, ga bisa lihat anaknya seneng dikit". Edwin menggerutu.

"Ga kok pa, ini wedang jahenya sudah matang, saya bawakan ke depan ya sebentar".

Dengan senyum pak Baroto mematuhi keinginan Bila, ia bergegas kembali ke teras rumahnya.

"Win jangan ganggu mantu papa, ambil kaca matanya" pak Baroto mengingatkan Edwin.

"Iya papa, sebentar"

Beberapa saat kemudian mereka telah berkumpul dimeja makan ketika simbok masuk.

ART keluarga pak Baroto biasanya datang jam tuju setelah suami dan cucunya berangkat bekerja.

Saat simbok masuh ia merasa heran melihat seorang wanita berkerudung sedang mengambilkan makanan untuk pak Baroto.

Simbok merasa tidak enak karena merasa datang terlambat, namun pak Baroto segera menenangkan wanita yang telah bekerja belasan tahun dirumahnya.

Pak Baroto juga memperkenalkan Bila sebagai istri Edwin, simbok terkejut mendengar pernyataan pak Baroto.

"Istrinya mas Edwin?" tanya simbok dengan raut wajah terkejut.

"Ya mbok, saya Bila istri kak Edwin" bila mendekati simbok kemudian mengulurkan tangannya.

"Iya bu saya pembantunya pak Baroto, kok semalem Darto ga cerita ya pak kalau mas Edwin menikah" simbok merasa kecewa karena Darto anaknya tidak bercedita soal kejadian sepenting ini.

"Ga papa kok mbok, sekarang mbok kan sudah tahu". Bila menjelaskan.

"Ya bu" jawab simbok.

"Mbok memang sy sudah setua itu, sampai dipanggil bu?" Bila bertanya dengan nada pelan "panggil Bila aja".

"Oh.....ya mbak Bila".

Siang hari yang cukup terik setelah selesai membersihkan rumah dan menyiapkan makan siang Bila bergegas ke kamar Edwin untuk membersihkan diri.

Sampai dikamarnya Bila segera membuka bajunya untuk menggantinya dengan handuk, ketika Edwin keluar dari kamar mandi ia begitu terpesona melihat tubuh sintal Bila yang hanya berbalutkan handuk.

Bila tak tahu jika Edwin ada dibelakangnya dan seketika Bila tersentak kaget ketika ia didekap dari belakang oleh seseorang, kemudian ketika orang itu mencium pipinya dengan membisikan kata sayang Bilapun menjadi tenang.

"Sayang....kalau melihat kamu seperti ini, aku tidak menjamin bisa bertahan" Bisik Edwin ditelinga istrinya.

"Ih...kakak" wajah Bila memerah ketika menjawab pertanyaan Edwin, sembari berusaha melepaskan pelukan Edwin.

"Nurut deh kamu, kalau brontak lagi aku ga janji lho" Edwin memperingatkan Bila.

"Tapi kak aku mau mandi kak".

"Aku mandiin yuk" Edwin menawarkan dengan semangat.

"Kakak....ga lucu lepasin sekarang?".

"Ga mau, udah kamu nurut aku pengen memeluk kamu, diem ya".

Untuk beberapa saat Edwin memeluk erat Bila sambil mencium mesra pipinya yang empuk, sampai tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

"Mas....Edwin ditunggu bapak dibawah mas". suara simbok terdengar.

"Ya mbok sebentar" jawab Edwin kesal "ga papa ga simbok ngrecokin mulu" gerutu Edwin.

"Udah cepat, kasihan papa".

"Ya sayang, kamu mandi yang wangi dandan yang cantik ya istriku" pinta Edwin sambil melepaskan pelukannya.

"Baik suamiku" jawab Bila manis.


AUTORENGEDANKEN
Bubu_Zaza11 Bubu_Zaza11

Happy reading and love you all

Load failed, please RETRY

Wöchentlicher Energiestatus

Stapelfreischaltung von Kapiteln

Inhaltsverzeichnis

Anzeigeoptionen

Hintergrund

Schriftart

Größe

Kapitel-Kommentare

Schreiben Sie eine Rezension Lese-Status: C90
Fehler beim Posten. Bitte versuchen Sie es erneut
  • Qualität des Schreibens
  • Veröffentlichungsstabilität
  • Geschichtenentwicklung
  • Charakter-Design
  • Welthintergrund

Die Gesamtpunktzahl 0.0

Rezension erfolgreich gepostet! Lesen Sie mehr Rezensionen
Stimmen Sie mit Powerstein ab
Rank 200+ Macht-Rangliste
Stone 0 Power-Stein
Unangemessene Inhalte melden
error Tipp

Missbrauch melden

Kommentare zu Absätzen

Einloggen

tip Kommentar absatzweise anzeigen

Die Absatzkommentarfunktion ist jetzt im Web! Bewegen Sie den Mauszeiger über einen beliebigen Absatz und klicken Sie auf das Symbol, um Ihren Kommentar hinzuzufügen.

Außerdem können Sie es jederzeit in den Einstellungen aus- und einschalten.

ICH HAB ES