Malam Minggu berikutnya Bila dijemput Edwin untuk pergi ke acara reuni bersama teman-teman satu jurusannya di SMK.
Dengan senyum manis Bila menemui Edwin di ruang tamu, dengan mengenakan stelan baju yang ia kenakan diacara pernikahan Fani, saat ini ia terlihat manis.
Dan satu hal yang membuat Edwin semakin bahagia adalah karena Bila terlihat memakai kalung pemberian Edwin enam tahun lalu waktu Bila masih SMK.
Sementara Edwin mengenakan kemeja berwarna krem dan celana berbahan katun berwarna abu-abu.
Kebetulan saat itu Bila hanya sendirian di rumah, jadi mereka langsung pergi.
Setengah jam kemudian mereka telah sampai disebuah tempat yang dihias dengan indah dengan konsep kekeluargaan.
Frans menghampiri Edwin dengan senyum yang ramah dan memeluk Edwin dengan pelukan yang hangat, senyumnya semakin lebar ketika tahu gadis yang datang bersama Edwin adalah Bila kekasih Edwin sejak masih sekolah.
Frans kini telah berubah, penampilannya dulu yang semrawut kini sudah tampak rapi, sekarang ia sudah menjadi seorang pengusaha kuliner yang cukup sukses di kota itu.
Dulu memang ia pernah menjadi seseorang yang hampir tak punya masa depan, karena perceraian orang tuanya, akan tetapi Tuhan memberinya kesasaran dan ia segera insaf juga mengawali hidupnya dengan cara yang lebih baik.
Dulu ketika Bila masih kuliah, saat Frans tengah mabuk dan hampir kehilangan nyawanya karena OD Bila dan Fani secara kebetulan menemukannya tergeletak didekat tempat kerja Bila.
Dari kejadian tersebut Bila dan Fani memberinya motivasi untuk berubah, sehingga dengan suport Bila dan Fani iapun mulai berubah, seandainya Frans tidak memandang Edwin mungkin dulu ia sudah meminta Bila untuk jadi kekasihnya.
Tapi itu adalah masalalu saat ini ia sudah cukup bahagia melihat Bila bahagia bersama Edwin laki-laki yang mencintai Bila dengan sepenuh hati.
"Wes....masih awet aja bro, pake formalin ya?" tanya Frans menggoda pasangan itu.
"Kagak lah bro, ga perlu formalin gua, cukup senyuman aja dah Bila langsung klepek-klepek". balas Edwin sembari menatap Bila dengan tatapan genit.
Bila hanya duam, dengan rasa kesal yang ia tahan.
Setelah menyapa Edwin kemudian Farans menyalami Bila, dengan sopan.
"Hi....Bila apa kabar?".
"Baik kak".
"Kapan nih undangan kalian sampai ke tanganku?" goda Frans.
"Secepatnya, biar berkurang jomblo di dunia ini, tinggal lo doang" Edwin menyela ledekan Frans.
"Sialan lo, eh silahkan Bila masuk udah banyak orang kok di dalam"
"Makasih kak Frans" Bila berkata dengan hormat pada Frans.
Mereka berdua masuk ke dalam restoran milik Frans yang sudah ramai dengan kehadiran teman-teman yang lain, banyak diantara mereka sudah menikah dan memiliki anak.
Acara sudah dimulai selain acara reuni hari ini adalah peresmian restoran Frans, acara berlangsung dengan lancar Bila dan Edwinpun menikmati acara tersebut dengan bahagia.
Sampai ketika waktu acara hampir selesai seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan tersebut.
Caca wanita cantik bertubuh seksi yang berbalut gaun berbahan sutra berwarna biru dengan hiasan pita dipinggangnya.
Rambutnya disanggul dengan rapi dengan kalung bertahtakan berlian yang terpasang indah di lehernya, ia juga menenteng tas tangan dengan merk branded menegaskan status sosialnya.
Caca berbaur dengan teman-temannya, menyapa mereka dengan ramah sampai tampak di depannya sosok yang hubungannya pernah ia hanncurkan.
Caca merasa geram melihat pasangan itu "Bila dan Edwin mengapa mereka masih bersama, sial" gumamnya dalam hati.
Padahal saat itu ia sengaja tampil maksimal cetar membahana dengan harapan bertemu Edwin dan mampu memikatnya, akan tetapi bukannya mencuri pandangan Edwin justru Edwin membuang muka ketika berhadapan dengannya.
Caca mendekati pasangan itu dan menyapa mereka dengan lembut.
"Hi Bila....apa kabar, kamu semakin cantik ya". ucap Caca berbasa-basi.
"Makasih, kak Caca juga cantik dan semakin cetar" Balas Bila datar.
"Hi Win..." pandangan Caca beralih pada sosok pria tampan didepannya "aku dengar kamu baru pulang dari Jepang ya,selamat hebat dan sukses ya sekarang?".
"Ya Ca makasih, tapi aku belum sesukses itu kali Ca" Edwin menjawab dengan nada sedikit ketus"kesuksesanku itu kalau aku sudah berhasil membawa Bila ke pelaminan" Edwin sengaja berkata demikian dengan nada tegas ia bermaksut untuk memperingatkan Caca agar tak mencoba untuk mendekatinya.
"Heh....." Caca tak menjawab ia hanya tersenyum simpul, tahu apa maksut Edwin?".
"Kak Edwin, jangan gitu ah" Bila mengingatkan Edwin "maaf ya kak Caca, kak Edwin emang suka ngacau" dengan canggung Bila berkata.
"Ga masalah Bil, aku sudah biasa dijutekin sama Edwin" jawab Caca.
"Bil...ayo pindah aja, gerah lama-lama disini" Edwin menarik tangan Bila untuk pindah ke tempat lain.
Sebenarnya Bila tidak enak dengan tindakan Edwin, tapi ia juga tahu bagaimana kesalnya Edwin pada Caca, sehingga ia tidak menolak ajakan Edwin untuk pergi.
Wah akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
Wellcome Caca jangan nackal yah.
Happy reading semua bonus up.
Bila menyeret Edwin dengan segera, sambil berjalan ia terus menggerutu tentang sikap Edwin.
"Kak....ga gitu juga kali, aku tahu kak Edwin ga suka sama Caca, tapi paling ga hargai sedikit lah perasaan Caca".
"Ogah amat, cewek kaya Caca tuh ga bisa dikasih hati barang sedikit" Edwin terus berkilah setiap kali Bila mencoba memberi pengertian "dasar prempuan ular".
"Kakak, kita pulang aja yuk kak" Bila mengajak Edwin untuk pergi "sekarang kita temui kak Frans, pulang aja".
"Good idea sayang, ternyata kamu memang pengertian ya sama aku".
"Udah, diem" jawab Bila ketus karena kesal.
Setelah berpamitan pada Frans mereka segera meninggalkan acara, bertemu Caca benar-benar membuat mood Edwin menjadi buruk.
Sementara Caca masih mengorek informasi tentang Edwin, dari apa yang ia ketahui saat ini Edwin dan Bila baru saja memulai hubungan mereka lagi.
"Oh...lagi cinta-cintanya ternyata" Caca berkata pada diri sendiri.
"Caca" sapa Frans dari belakang sambil menepuk pundak Caca.
"Frans, selamat ya semoga sukses" Caca memberi selamat atas peresmian restoran Frans sambil mencium pipi Frans.
"Thankyou, tambah cantik kamu Ca, kemana aja?" Frans memberondong pertanyaan pada Caca.
"Aku kuliah dan kerja di Bandung, jarang pulang sih emamg, tapi karena undangan kamu aku berencana balik aja lah".
"Wo....karna aku?" Frans menggoda Caca.
"Ya....karena kamu aku ketemu Edwin,dan aku sudah memutuskan untuk mendapatkan Edwin" Caca berkata pada Frans dengan percaya diri.
"Ca...aku cuma ngingetin ya, kamu kan tahu Edwin sudah punya Bila, jangan rusak lagi lah hubungan mereka, kasian mereka".
"Enak aja, apa yang aku mau harus aku dapatkan dengan cara apapun" jawab Caca teguh.
"Ya elah Ca, nih didepan kamu ada cowok se keren aku Ca, buka mata kamu girls, masih banyak cowok keren selain Edwin" Frans mencoba memoengaruhi Caca.
Caca tak menjawab ia hanya melempar senyum simpul pada Frans seolah mengejek.
Mengetahui mood Edwin yang buruk saat ini Bila yang tadinya berencana untuk memberitahukan tentang keputusan ayahnya ahirnya mengurungkan niatnya.
Ia takut jika ia tetap memberitahukan hal tersebut Edwin akan berbuat nekat, dengan mendatangi ayahnya atau mengancam putra pak Baroto.
Bila tidak ingin hubungan baiknya dengan pak Baroto rusak hanya karena emosi Edwin.
"Kak kita mau kemana?" Bila mencoba mencairkan situasi hening sejak awal perjalanan mereka.
"Aku ga tahu Bil" jawab Edwin datar.
"Kalau gitu kita ke rumah Fani aja yuk kak!".
"Apa, ke rumah Khafiz?" Edwin berkata dengan kesal, ia masih saja jelous jika ada sesuatu yang berhubungan dengan Khafiz.
"Ya....ke rumah Khafiz" Bila tahu apa yang Edwin rasakan "tapi aku mau ketemu Fani, heran kakak masih aja cemburu sama Khafiz".
Bila kesal dengan sikap Edwin, dan ahirnya iapun merajuk seperti yang Edwin lakukan.
"Kalau kakak ga mau ya udah, aku turun depan, biar aku ngangkot ke sana, tapi" Bila terdiam sejenak sambil melirik Edwin "tapi nanti kalau aku pulang sama Khafiz ga boleh cemburu ya!".
"Wuis....enak aja ayo aku anter, nyari kesempatan kamu ya?".
"Daripada yang nganter manyun terus, males banget".
"Ya....aku ga manyun lagi deh nih" Edwin memasang muka senyum yang dipaksakan "udah senyum nih, jangan ngambekin aku ya sayang!" pinta Edwin pada Bila.
Bila tersenyum sambil mencubit gemas pipi Edwin yang mulai cubby "anak manis, gitu dong" dengan lembut Bila menghibur Edwin.
Edwin tersenyum dengan perlakuan Bila, setelah, baru kali ini ia mendapat perlakuan manis dari Bila.
"Bila... kalau setiap aku ngambek kamu.gitu, aku mau ngambek terus ah" Edwin mulai menggoda.
"Emang kenapa?" Bila belum sadar dengan apa yang ia lakukan.
"Aku mau dong dicubit lagi pipinya sama kamu" tanpa alih-alih Edwin berkata.
"Ih kakak" wajah Bila segera memerah mendengar ucapan Edwin.
Seketika suasana hati Edwin berubah, hanya karena cubita mesra dipipinya.
Mereka sampai disebuah rumah yang bergaya klasik, dengan halaman yang luas dan tanaman yang tertata rapi membuat rumah itu terlihat asri.
Bila segera mengetuk pintu dan sesaat kemudian Fani membuka pintu, setelah Fani membuka pintu Bila tersenyum melihat Fani yang kelihatan lebih gemuk dengan perut sedikit membuncit.
Saat ini Fani telah mengandung buah cintanya dengan Khafiz, dan usia kandungannya sudah hampir tiga bulan.
"Bila....." Fani terlihat bahagia ketika tahu tamu yang datang adalah Bila.
"Fani.....kangen" Bila langsung memeluk Fani.
Sementara dua prempuan yang lama tak bertemu itu sedang berpelukan seperti lala dan poo, mata Edwin tertuju pada perut Fani yang sudah terlihat membuncit.
"Fan...kamu hamil?" tanya Edwin.
"Ya kak" Fani menjawab dengan malu-malu.
"Wih....Bil kamu ga pengen tuh?" kembali Bila mendapatkan serangan.
"Ya ga lah, orang aku belum punya suami masa hamil, enak aja" Bila mencoba menghindari godaan Edwin.
"Kalau aku pengen menghamili kamu". dengan lugas Edwin berkata tanpa malu.
"Ih kak Edwin apaan sih, dasar ga tahu malu" Bila langsung berubah galak "Fan kamu sendirian?".
"Ga kok, Khafiz lagi di rumah, masuk yuk" Fani memjawab sambil tersenyum melihat tingkah Edwin dan Bila "masuk yuk".
Bila masuk bersama Fani diikuti Edwin, yang tiba-tiba menggandeng Bila.
Khafiz keluar dari kamarnya, ketika melihat temannya datang Khafiz langsung menyapa mereka.
"Eh ada tamu" sapa Khafiz sambil menyalami Bila dan Edwin.
"Selamat bro, lu udah terbukti laki-laki 100%" sifat tengil Edwin kembali muncul.
"Makasih" Khafiz hanya mampu menjawab singkat karna merasa canggung " duduk Win".
Mereka kemudian duduk dalam satu ruangan, yang berada di bagian samping agar nyaman karena samping rumah Fani dan Khafiz memang dikhususkan untuk tamu dekat dan. keluarga.
Jahilnya nongol lagi nih.
Das könnte Ihnen auch gefallen
Kommentar absatzweise anzeigen
Die Absatzkommentarfunktion ist jetzt im Web! Bewegen Sie den Mauszeiger über einen beliebigen Absatz und klicken Sie auf das Symbol, um Ihren Kommentar hinzuzufügen.
Außerdem können Sie es jederzeit in den Einstellungen aus- und einschalten.
ICH HAB ES