App herunterladen
72.47% Memory Of Love / Chapter 79: Kalau Bapaknya Saja Baik Pasti Putranya Juga

Kapitel 79: Kalau Bapaknya Saja Baik Pasti Putranya Juga

Sebenarnya Bila merasa dunianya sudah hancur dengan perjodohan itu, bagaimana ia akan menjelaskan semua ini pada Edwin, bagaimana ia harus memupuskan rasa cintanya yang begitu dalam.

Ia baru saja merasakan kebahagiaan kembali cintanya yang telah hilang, namun dengan cepat cinta itu harus pupus karena keinginan orang tuanya.

Bila benar-benar ingin menjalani hidup dengan Edwin cinta pertamanya, akan tetapi ia tidak ingin menhadi anak durhaka dengan terang-terangan menolak keinginan ayahnya, karena baginya kebahagiaan orang tuanya adalah hal terpenting, lagi pula ayahnya telah menerima ajakan dari pak Baroto.

"Bila kamu setuju kan, untuk bertemu putra pak Baroto?" ayah menegaskan.

"Bila...Bila akan mencoba yah, tapi kalau setelah bertemu pria itu Bila ga sreg Bila boleh kan yah menolak perjodohan ini?" Bila bertanya dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.

Melihat putrinya yang tertekan sebenarnya ayah merasa tidak tega, namun ia tetap bertahan demi memberi kejutan indah pada putrinya dihari yang bersejarah esok, ibu dan adiknya juga merasakan hak yang sama.

"Terserah kamu, tapi ayah hanya berharap kamu bersedia dengan perjodohan ini, kamu tahu menikah bukan hanya menyatukan dua orang saja, tapi perkawinan dua keluarga" ayah berbicara dengan lembut akan tetapi ketegasan tampak di wajahnya.

"Ya Bil...pak Baroto itu sayang banget sama kamu, beliau juga menghargai keluarga kita, walau kita berasal dari keluarga yang sederhana, jadi kamu pikirkan semua ini dengan baik" sahut ibu menguatkan suaminya.

"Ya bu, pak Baroto mang sangat baik, tapi ibu kan belum kenal sama putranya pak Baroto" Bila masih berkilah.

"Kalau bapaknya saja baik, anaknya pasti baik juga mbak Bila" sahut Zahra.

"Za...kamu tuh masih kecil diem kamu". dengan keaal Bila membentak Zahra.

Zahra tertawa kecut mendengar Bila memarahinya, iapun hanya terdiam "coba aja nanti kakak pasti bakal banjir kebahagiaan pas ketemu calon suami kakak" Zahra mengoceh dalam hati.

Waktu berikutnya berlalu dengan hening, sampai ayah bertanya pada Bila.

"Bila semalam kamu tidur di mana?"

"Di mes butik yah" Bila menjawab dengan lemas.

"Edwin?" ayah bertanya dengan nada curiga.

"Sama di mes juga, tapi di kamar yang berbeda kok" Bila menjelaskan "kak Edwin itu laki-laki yang baik yah, ga munhgkin memanfaatkan Bila" Bila mencoba mdngunggulkan Edwin supaya ayahnya berfikir ulang dengan keputusannya.

"Oh....syukurlah" jawaban datar ayah membuat dada Bila semakin sesak.

Bila melihat orang tuanya namun tak ada reaksi apapun, ahirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya, dengan kesal.

Melihat tingkah Bila keluarganya hanya tersenyum, setelah Bila tak lagi berada di ruangan itu.

Sementara di rumahnya Edwin juga mengalami hal yang tak jauh beda, keluarga besarnya sedang berkumpul untuk meminta Edwin segera menikah.

Bedanya dengan terang-terangan Edwin menolak perjodohan itu, dengan tegas ia berkata bahwa ia akan tetap memilih Bila.

Keluarganya tak bisa membujuk Edwin untuk menerima apa yang papanya inginkan, mereka merasa putus asa, akan tetapi berbeda dengan pak Baroto dengan santai ia menghadapi perlawanan dari Edwin.

"Pa...ini hidupku, aku yang akan menjalaninya jadi tolong biarkan aku yang menentukan sendiri, papa atau siapapun ga boleh ikut campur" dengan tegas Edwin menolak.

"Win...kamu jangan gitu sama papa Win, papa cuma mau yang terbaik buat kamu" Miranti menjelaskan.

"Mbak...gadis yang aku pilih juga gadis terbaik buat aku" jawab Edwin ketus.

"Win...bawa gadismu itu pulang kenalkan ke kami, baru kamu bisa ngomong" balas Edo.

"Sudah sabar, papa yakin setelah melihat gadis pilihan papa kamu pasti berubah pikiran Win" papa menantang.

"Tidak...sekali tidak, tidak" Edwin tetap bersikeras "sudah aku ke kamar dulu capek".

Dengan marah Edwin meninggalkan keluarganya yang sedang berkumpul, kakak-kakaknya merasa kesal dengan sikap Edwin, tapi pak Baroto bersikap santai malah senyum tersungging di wajahnya.

"Pa...papa ga kesel sama sikap Edwin?" Erwin bertanya.

"Ga santai saja, kalau dia ketemu gadis pilihan papa pasti Edwin bakal berterimakasih ga ada henti-hentinya sama papa" pak Baroto berkata penuh percaya diri.

"Serius pa?" tanya Rini istri Erwin "mencurigakan lho" sahut wanita beranak satu itu.

Pak baroto hanya tersenyum membuat anak-anaknya juga bertanya-tanya.

Di dalam kamar Edwin mengirim pesan pada Bila.

📩"Bila sayang apapun yang terjadi aku akan mempertahankanmu".

📨"Ada apa kak?". Bila merasa heran mungkinkah Edwin merasa ada seseorang yang akan mengambil Bila darinya.

📩"Ga ada, aku cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu". Edwin menutupi apa yang sebenarnya, supaya Bila tidak merasa sedih.

📨"Aku juga kak, tapi sekeras apapun kita berusaha, kalau Allah tidak mengizinkan maka hal itu akan mustahil". Bila mengingatkan, ada keputusasaan dalam kalimat itu.

📩"Bila, maksut kamu apa?". Edwin juga merasa curiga.

📨"Ga kok kak, aku hanya mengingatkan".

📩"Bila aku ga akan menyerah".

📨"Satu yang pasti kak, berdo'a".

📩"Baik sayang, kamu juga berdo'a ya supaya ga ada orang yang mau memisahkan kita"

Bila tak menjawab pesan terahir Eswin ia hanya mampu menangis mengingat laki-laki itu yang begitu menyayanginya dan juga sangat ia cintai.

"Maaf kak, aku belum bisa mengatakannya pada kak Edwin" air mata Bila menetes dengan derasnya.

"Ayah....mengapa ayahemutuskan semua ini tanpa pendapatku yah" Bila berkata dengan penuh keputus asaan.


AUTORENGEDANKEN
Bubu_Zaza11 Bubu_Zaza11

Wih....makin berabe dah urusan perjodohannya.

Trimakasih atas suportnya dan selalu ditunggu.

Happy reading and love you all.

Kapitel 80: Cantik Dan Semakin Cetar

Malam Minggu berikutnya Bila dijemput Edwin untuk pergi ke acara reuni bersama teman-teman satu jurusannya di SMK.

Dengan senyum manis Bila menemui Edwin di ruang tamu, dengan mengenakan stelan baju yang ia kenakan diacara pernikahan Fani, saat ini ia terlihat manis.

Dan satu hal yang membuat Edwin semakin bahagia adalah karena Bila terlihat memakai kalung pemberian Edwin enam tahun lalu waktu Bila masih SMK.

Sementara Edwin mengenakan kemeja berwarna krem dan celana berbahan katun berwarna abu-abu.

Kebetulan saat itu Bila hanya sendirian di rumah, jadi mereka langsung pergi.

Setengah jam kemudian mereka telah sampai disebuah tempat yang dihias dengan indah dengan konsep kekeluargaan.

Frans menghampiri Edwin dengan senyum yang ramah dan memeluk Edwin dengan pelukan yang hangat, senyumnya semakin lebar ketika tahu gadis yang datang bersama Edwin adalah Bila kekasih Edwin sejak masih sekolah.

Frans kini telah berubah, penampilannya dulu yang semrawut kini sudah tampak rapi, sekarang ia sudah menjadi seorang pengusaha kuliner yang cukup sukses di kota itu.

Dulu memang ia pernah menjadi seseorang yang hampir tak punya masa depan, karena perceraian orang tuanya, akan tetapi Tuhan memberinya kesasaran dan ia segera insaf juga mengawali hidupnya dengan cara yang lebih baik.

Dulu ketika Bila masih kuliah, saat Frans tengah mabuk dan hampir kehilangan nyawanya karena OD Bila dan Fani secara kebetulan menemukannya tergeletak didekat tempat kerja Bila.

Dari kejadian tersebut Bila dan Fani memberinya motivasi untuk berubah, sehingga dengan suport Bila dan Fani iapun mulai berubah, seandainya Frans tidak memandang Edwin mungkin dulu ia sudah meminta Bila untuk jadi kekasihnya.

Tapi itu adalah masalalu saat ini ia sudah cukup bahagia melihat Bila bahagia bersama Edwin laki-laki yang mencintai Bila dengan sepenuh hati.

"Wes....masih awet aja bro, pake formalin ya?" tanya Frans menggoda pasangan itu.

"Kagak lah bro, ga perlu formalin gua, cukup senyuman aja dah Bila langsung klepek-klepek". balas Edwin sembari menatap Bila dengan tatapan genit.

Bila hanya duam, dengan rasa kesal yang ia tahan.

Setelah menyapa Edwin kemudian Farans menyalami Bila, dengan sopan.

"Hi....Bila apa kabar?".

"Baik kak".

"Kapan nih undangan kalian sampai ke tanganku?" goda Frans.

"Secepatnya, biar berkurang jomblo di dunia ini, tinggal lo doang" Edwin menyela ledekan Frans.

"Sialan lo, eh silahkan Bila masuk udah banyak orang kok di dalam"

"Makasih kak Frans" Bila berkata dengan hormat pada Frans.

Mereka berdua masuk ke dalam restoran milik Frans yang sudah ramai dengan kehadiran teman-teman yang lain, banyak diantara mereka sudah menikah dan memiliki anak.

Acara sudah dimulai selain acara reuni hari ini adalah peresmian restoran Frans, acara berlangsung dengan lancar Bila dan Edwinpun menikmati acara tersebut dengan bahagia.

Sampai ketika waktu acara hampir selesai seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan tersebut.

Caca wanita cantik bertubuh seksi yang berbalut gaun berbahan sutra berwarna biru dengan hiasan pita dipinggangnya.

Rambutnya disanggul dengan rapi dengan kalung bertahtakan berlian yang terpasang indah di lehernya, ia juga menenteng tas tangan dengan merk branded menegaskan status sosialnya.

Caca berbaur dengan teman-temannya, menyapa mereka dengan ramah sampai tampak di depannya sosok yang hubungannya pernah ia hanncurkan.

Caca merasa geram melihat pasangan itu "Bila dan Edwin mengapa mereka masih bersama, sial" gumamnya dalam hati.

Padahal saat itu ia sengaja tampil maksimal cetar membahana dengan harapan bertemu Edwin dan mampu memikatnya, akan tetapi bukannya mencuri pandangan Edwin justru Edwin membuang muka ketika berhadapan dengannya.

Caca mendekati pasangan itu dan menyapa mereka dengan lembut.

"Hi Bila....apa kabar, kamu semakin cantik ya". ucap Caca berbasa-basi.

"Makasih, kak Caca juga cantik dan semakin cetar" Balas Bila datar.

"Hi Win..." pandangan Caca beralih pada sosok pria tampan didepannya "aku dengar kamu baru pulang dari Jepang ya,selamat hebat dan sukses ya sekarang?".

"Ya Ca makasih, tapi aku belum sesukses itu kali Ca" Edwin menjawab dengan nada sedikit ketus"kesuksesanku itu kalau aku sudah berhasil membawa Bila ke pelaminan" Edwin sengaja berkata demikian dengan nada tegas ia bermaksut untuk memperingatkan Caca agar tak mencoba untuk mendekatinya.

"Heh....." Caca tak menjawab ia hanya tersenyum simpul, tahu apa maksut Edwin?".

"Kak Edwin, jangan gitu ah" Bila mengingatkan Edwin "maaf ya kak Caca, kak Edwin emang suka ngacau" dengan canggung Bila berkata.

"Ga masalah Bil, aku sudah biasa dijutekin sama Edwin" jawab Caca.

"Bil...ayo pindah aja, gerah lama-lama disini" Edwin menarik tangan Bila untuk pindah ke tempat lain.

Sebenarnya Bila tidak enak dengan tindakan Edwin, tapi ia juga tahu bagaimana kesalnya Edwin pada Caca, sehingga ia tidak menolak ajakan Edwin untuk pergi.


AUTORENGEDANKEN
Bubu_Zaza11 Bubu_Zaza11

Wah akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.

Wellcome Caca jangan nackal yah.

Happy reading semua bonus up.

Load failed, please RETRY

Wöchentlicher Energiestatus

Stapelfreischaltung von Kapiteln

Inhaltsverzeichnis

Anzeigeoptionen

Hintergrund

Schriftart

Größe

Kapitel-Kommentare

Schreiben Sie eine Rezension Lese-Status: C79
Fehler beim Posten. Bitte versuchen Sie es erneut
  • Qualität des Schreibens
  • Veröffentlichungsstabilität
  • Geschichtenentwicklung
  • Charakter-Design
  • Welthintergrund

Die Gesamtpunktzahl 0.0

Rezension erfolgreich gepostet! Lesen Sie mehr Rezensionen
Stimmen Sie mit Powerstein ab
Rank 200+ Macht-Rangliste
Stone 0 Power-Stein
Unangemessene Inhalte melden
error Tipp

Missbrauch melden

Kommentare zu Absätzen

Einloggen

tip Kommentar absatzweise anzeigen

Die Absatzkommentarfunktion ist jetzt im Web! Bewegen Sie den Mauszeiger über einen beliebigen Absatz und klicken Sie auf das Symbol, um Ihren Kommentar hinzuzufügen.

Außerdem können Sie es jederzeit in den Einstellungen aus- und einschalten.

ICH HAB ES